Sabtu, 10 Desember 2011

waltz muram

gedung tua disudut jalan,
dengan cat merah bata dan lumut dipermukaannya.
hujan dan seorang gadis bergaun hitam,
menunduk dengan baret dan renda hitam menggantung di keningnya,
kakinya mengikuti alun musik gramophone di ujung ruang,
menghentak, berjalan dan berputar ringan,
matanya terpejam dan tubuhnya terus menari,
seperti mengulang mimpi dan mencari bau kopi yang memenuhi ruang berlantai kayu ini,
berputar dan merentang tangan menangkap asap cerutu yang mengabut,
seiring waltz yang terus menyayat hujan,
seperti perkataan pria; bahwa hujan ialah senandung malaikat yang mendoakan kebahagian kita;
lalu mengapa tangisan langit ini turun menggenang sedih antara lalu dan kamu, pria bertuksedo hitam?


(turun bersama hujan dan waltz muram; oleh tika and the dissidents)

Jumat, 09 Desember 2011

"hai, apa kabar?"

aku teh yang pahit dengan genangan melati.
pahit dan menusukmu yang sibuk dengan bau dedaunku.
aku kopi dingin yang memeluk pekat.
dingin dan membekukanmu dalam sibuk mencari dasar cangkirku.


aku kafein,
dan kafein tidak pernah berbohong pada cangkir yang tidak sanggup menahan deru yang terlalu keras disembunyikan,
bahkan untuk sekedar sapaan rindu;
"hai, apa kabar?"

Rabu, 07 Desember 2011

waktu

siang ini, semesta berkonspirasi menunjukan kepada saya betapa waktu adalah satu dari kebahagian, dan anugrah besar.
dan waktu menjadi sangat berharga saat kita mulai kehilangan rutinitasnya, lalu mengatur ritmenya dari awal. dan waktu menjadi kehilangan terbesar saat terhenti untuk bergerak. momen menjadi endapan terbesar saat semua melebur menjadi kenangan masa depan.

waktu.





dan saya kehabisan itu; tertawa, menangis atau sekedar obrolan kecil diantara kita, teman teman.

Sabtu, 03 Desember 2011

project baru

agak kaget melihat tanggal akhir postingan saya. sudah sebulan lebih ternyata saya stop ngeblog. dan sekarang saya jadi merasa seperti pensil tumpul. tidak berkembang dan menghasilkan apapun sebulan kemarin.
terpikir untuk membuat #blogproject saat sedang mencuci piring tadi. entah kenapa, menurut saya, selain dudukan kloset, tempatmu bisa merenung diam jugalah bak cuci piring. Lalu tetiba tadi ada keinginan membuat #blogproject dua sekaligus;
1. dari awal blog ini dibuat, saya sudah mengkotakkannya bergenre fiksi, entah itu puisi, prosa, syair ataupun apa itu. Lalu ada keinginan saya untuk memulai memposting non-fiksi ke blog ini. Seminggu sekali.
2. saya akan membuat project sebelum kepindahan ke malang akhir Desember ini. akan ada 10 surat khusus untuk orang orang khusus selama tiga tahun di pekanbaru ini. mungkin semacam surat perpisahan, ya meskipun saya kurang suka dengan judul "perpisahan".

semoga #blogproject ini bisa lancar. terimakasih terus mengikuti, cangkir cangkir pembaca :)

Kamis, 27 Oktober 2011

tertawa

semesta sudah cukup rumit untuk menertawakan kita,
menertawakan lakumu,
menertawakan raguku,
menertawakan keegoisan,
menertawakan kegilaan,
menertawakan ketidakyakinan,




menertawakan kita dengan nanar.

Rabu, 26 Oktober 2011

lepas

ada yang ingin lepas dan jatuh begitu saja,
seperti daun kering yang digosongkan matahari,
yang diombang ambing angin,
yang ditertawakan pekat tanah,
yang menunggu gravitasi menjatuhkannya dengan lelah.

ada yang ingin lepas dan meledak begitu saja,
seperti gelembung balon yang kau pegang,
dengan karet karet menipis dihimpit udara,
yang memeluk erat sisi sisinya,
yang menunggu udara menerbangkannya bebas atau meledakkannya dengan cepat.

ada yang ingin lepas dan terbang begitu saja,
seperti piaraan yang digantungkan di senja,
dalam sangkar yang memeluk erat,
yang dirayu awan untuk sekedar terbang keluar,
menunggu nasib hingga habis atau terbang dengan kepak terlebar.


ada separuh pundakku yang ingin jatuh,
melepas beban,
melepas ocehan,
melepas tertahan,




menunggui bebas.

Sabtu, 22 Oktober 2011

jamur pada cangkir kopi ku, dan kamu.






tumpuk buku buku prosa usang,

dengan alur seenaknya yang tidak pernah ditamatkan penulisnya,
yang sengaja disusun berjajar disudut rak berdebu.
lalu cangkir kopi kering,
dengan jejak bibir menyisa pada lengkungnya,
yang sudah dingin sejak pesta sore terakhir kita.
dan gelak kosong yang menggema,
bersahut sahut memantul dari bilik kecil ini,
menertawakan sepi yang berubah jamur pada dinding dinding dingin.
lalu balon balon kata yang kosong,
dan tanda tanya tanda tanya yang terbang menggatung dilangit langit,
berusaha tergapai untuk dipecahkan dengan debat hingga larut,
atau bahkan tidak benar benar pecah dan hanya sobek sobek sedikit

bilik kecil dengan rak rak sajak, meja tulis besar dengan kertas kertas berserak, mesin tik tua,
putar piringan hitam dengan sedikit hentak hentak keci sepatuku, atau ayun tarian hujan yang ikut bersenandung, lampu remang dan kepul kopi yang tak pernah habis tercium, dan setumpuk cangkir kotor sisa perbincangan semalam.
perpustakaan imajiner yang terkunci rapat, dan dikunjungi sesekali saat rindu menggebu, pada teman abu kelabu.




(sabtu malam, terlalu banyak kafein, terlalu banyak jujur dan gengsi telanjang, terlalu banyak memutar mian tiara-ini rindu.)

Rabu, 19 Oktober 2011

satu

semoga tulus milikmu mengalahkan ragu, beda, dan memori yang lekat pada lalu.
tuhan bersamaku, dan menaungimu, sembilan belas-ku.

Minggu, 09 Oktober 2011

jatuh, sakit, dan berbahagialah

jatuh, jatuh hati, jatuh cinta.

bukankah kita sudah dibiasakan jatuh sedari kecil?
jatuh dan menangis,
jatuh dengan sepeda roda tiga,
lecet lalu menangis sakit.
lalu tertawa bahagia,
diantara pipi pipi yang masih basah,
saat tubuh lihai mengayuh sepeda jauh jauh.

jatuh.
menyakitkan,
tapi toh ia selalu membawa senyum diantara hangat air yang jatuh sebelumnya,
yang merembes lalu membuat dua pupilmu sembab.


jatuh hati,
menjatuhkan diri pada landas hati yang kita pilih,
sakit,
toh namanya jatuh,
atau setidaknya suatu saat kamu pasti merasakan sakit,
mengapa harus takut?
takut sakit saat kamu memutuskan jatuh?
mereka berpasangan,
jatuh, bahagia dan sakit,
jatuh, sakit, lalu bahagia.
jatuh lalu merasa lihai.

bukankan untuk itu kita hidup?
untuk jatuh dan bersiap siap jatuh kembali,
untuk sakit dan sakit lagi,
lalu bahagia dan bahagia kembali.
lalu lihai untuk melompat jatuh lagi,
terbiasa dengan sakit lagi,
menunggui bahagia bahagia kembali.

bukankah tuhan menjatuhkanmu,
untuk merasakan sedih dan menunggu bahagia yang sepasang,
merasakan bahagia untuk mengobati sedih yang suatu saat datang?

hidup adalah melompat jatuh.
jatuh dari hati satu ke hati lainnya,
supaya punggungmu erat saat bergantung,
sayapmu kuat saat menggelantung,
bergantung dan menggelantung dari bahagia satu dan sesak lainnya.

nikmatilah!

Sabtu, 01 Oktober 2011

minggu, kedai kopi, dan kita


Akan ada saatnya,
di suatu matahari akhir pekan,
kamu tidak perlu jauh jauh jalan kaki,
bersama beberapa tetangga,
atau mungkin rekan kerjamu,
hanya untuk ngopi dan makan sesuap dua suap lumpia hangat,
dan berceloteh tentang berita berita surat kabar,
atau berargumen tentang serangan nuklir,
atau hanya mencari cari kesalahan atas gol gol tim lawan semalam.
lalu pulang dengan bau rokok di kerah bajumu.

Mungkin sesekali kita bisa berjalan kaki berdua,
saat taman kecil kita mulai nampak membosankan,
atau persediaan kopi kita habis.
Kamu dan kaos putihmu, dan
aku dengan rok oranye ku,
tidak perlu serasi karna kerikil jalanan tidak akan mengomentari kita,
tidak perlu ada sepatu sepatu bermerek karena debu trotoar terlalu sibuk
untuk memperhatikan sandal jepit kita.
Lalu kita duduk duduk di kedai kopi hingga siang,
dengan kopi yang sengaja kita habiskan lambat lambat,
tidak ada skor basket dari permainan di layar kaca tadi malam,
tidak ada berita kriminal pagi yang meluncur mengisi obrolan kita,
atau hanya sekedar pembicaraan acara arisan keluarga pekan depan.

Kamu hanya memandangku dalam saat aku sibuk bercuap tentang acara galeri seniku,
dan aku menyembunyikan kerut dahiku saat kamu bercerita panjang tentang proyek bisnismu,
lalu beberapa saat tersenyum bersama saat membicarakan film yang kita tonton berdua kemarin malam.

Tidak ada yang mengganggu kita,
dan mengusir kita, meski piring roti sudah habis sejak beberapa jam lalu,
dan pengunjung sudah berganti ganti sejak pagi, di sekeliling meja kita.


Hidup hanya bercerita yang kita suka,
lalu mendengar apa yang kamu suka,
dan tersenyum bersama pada apa yang sama sama kita suka,
tanpa harus sama persis,
antara aku, dan kamu,

lelaki masa depan.

kita hanya tepat.

Tuhan tidak kemana mana,
saat seorang muram yang lelah pada sendu tulisannya sendiri,
benar benar terduduk dengan lutut abu abu,
terlalu banyak drama yang diciptakan, dimainkan, dengan segala pencitraan yang menggerogoti tengkuknya sendiri.

Dan,
Mungkin kamu yang dikirim Tuhan,
bukan laki laki dengan bintang di kelopakmu,

tapi terimakasih
membangunkanku,
bahwa bintang yang akan tertabur di pupilmu itu bukan karna rumit pikiran kita, dan segala perbendaharaan kata yang awam, atau cangkir yang tersusun sama.

bintang milikmu hanya ada di percakapan sederhana kita,
terus ada di rongga rongga berasap ini,
menyesap hangat,
tanpa perlu keluar dan berbinar dari penglihatanmu.


(mendengarkan SANTAMONICA - the boy with stars in his eyes <3 )

Sabtu, 24 September 2011

jatuh telak

sepertinya sore ini kamu betul betul sukses memukulku jatuh.
terjerembap,
kotor,
basah,
dalam lubang kecil dibawah kerongkonganku.
lubang kecil yang memecah aksara pilu,

pilu,
mengaku jatuh dalam sendi sendimu,
secara telak,

dan jari jari kedinginan ini,
menelanjangi angkuh pada tulisan sore untukmu;

aku merindukanmu,


sembilan belas ku.

(sedikit hujan, secangkir kopi, dan Adelaide Sky by Adithia Sofyan)

Jumat, 23 September 2011

panggung bermain tuhan

biar tuhan yang atur, berapa kali jungkat jungkit ini harus terpental tanah,
biar tuhan yang tau, kemana ayunan ini akan diterbangkan sampai lelah,


biar tuhan yang bawa, kemana perosotan ini menggelinding hingga jengah.



biar tuhan yang tetapkan,
untuk menjatuh cintakan kita, sampai kita kalah.

Sabtu, 17 September 2011

gagu

"mungkin hatimu menjadi frontal saat kau tuliskan pada selembar maya, dan kau bisa membacaku gagu untuk itu."

geli

"coba diam, tarik nafasmu, dan pejamkan mata."
"hmm"
"jadi?"
"apa kamu juga digelitiki sayap kupu kupu seperti ini?"

 

Selasa, 13 September 2011

JATUH

"Jangan terlalu cepat jatuh, sebelum tau landasanmu benar."

mungkin ini terlalu cepat, dan kamu bukan pengolah kata yang tepat,
lalu merapatlah pada lebam lebam peluhku,
dan segala rumit ciptaku,
supaya aku benar benar tau,
aku tidak salah jatuh pada rangkulmu.



gerimis, dan music for sale.

Jumat, 12 Agustus 2011

Lampion Merah Bergambar Phoenix

saat merah menjadi kuasa,
dan degup adalah ibadah kita,
lalu mimpi kita adalah hentak liar yang semakin mencengkram,
dan kita di-Tuhan-i rasa yang sama.
memeluk, erat,
seperti ketiduran diatas ranting ranting peramabat,
tertidur, 
bermimpi tentang surga merona,
dan mimpi adalah hujan penumbuh ranting ranting,
semakin erat, 
tanpa sekat,
hingga terbangun,
lalu yang aku ketahui hanyalah hangat dan oranye,
awan memerah dan tubuh terbalutku,
dan keparat,
kenapa kita ditiduri mimpi surga bersama?
sementara kaki kakiku membiru dan ragaku adalah kosong habis kau minum,
dan kita hanyalah empat huruf pengunci tundukku,
dan bangsat,
bahkan aku tidak bisa bangun hanya untuk merasakan tulang belakangku masih tersusun,
dan kuasa diriku hanyalah lalu,
kita tidak dituhani rasa, selain dibudaki kepentingan,
kamu kenyang,
dan jantungku kosong,
ranting ini semakin erat tumbuh seperti rona pipi kita,
membunuh debarku sendiri pada diri.
ranting ini harus terlepas sayang,
diam diam, saat tidurmu dalam,
diam diam, menusuk pucuk ranting ini pada rongga dada kirimu,
menungguimu berdarah, dan jantungku tak kosong lagi,
berdebar lagi,
berdebar lagi pada merah pipiku sendiri.

(jatuh cinta, dengan diri sendiri, setelah menuntaskan "Lampion Merah Bergambar Phoenix" dari buku kumpulan cerpen Noviana Kusumawardhani, LELAKI YANG MEMBELAH BULAN.) 

Selasa, 09 Agustus 2011

rindu

ada yang menyeruak sesak, pada layar dan mata awan.
dan rindu yang mengabu kusam disudut berdebu, ketakutan pada bengis sepasang mata dendam,
yang meloncat loncat keluar atas nafsu pembalasan,
pada perjanjian dengan kedua jari tanganmu menyilang,
pada biru mulut salah ucapan,
menjatuhkan,
menghancurkan,
seperti lupa pada manis genap bulan bulan telanjang,
lalu dengan tanduk menyembul dari kepalamu,
dan pada aku yang tidak punya kepala untuk tegak pada kota citraku dirajam,
bolehkah aku sedikit sinting merindukanmu, panda?

Sabtu, 06 Agustus 2011

deru debu liar


musik menghentak, menari bersama deru binatang besi berkaki bulat empat ini. lalu hujan diluar, dan aku kamu menghentak liar seperti tarian amarah petir. menghentak, kanan, menerobos lalu lalang, dan menyenggol anak anak tak cukup umur diatas roda sepeda bermesin mereka, menyuapinya air becekan hujan.
terus! lalu lolong lolong bel dari sampin kanan dan kiri kami, mengoceh dan mengumpat, mengutuki hewan besi kami. menghiraukan lampu berhenti dan semakin menambah laju kami diantara bayang lampu jalanan yang terinjak injak.
mengencangkan musik, melukai lubang pendengaran kami yang berdarah darah. jangan pulang sebelum dikejar bapak bapak berseragam sok disiplin itu, pesanku.
bawa aku tua pada jalan jalan tua yang dilumuti setan ini!
senyummu, diantara kepul asap putung rokok kita yang tinggal setengah, yang terbang memenuhi kap hewan besi ini, dan saat jatuh cinta adalah perjanjian untuk berjudi pada hal hal gila dan bertaruh pada setan atas nyawa, maukah kamu menjadi pendebar sesak dadaku ini?

Senin, 01 Agustus 2011

payung dingin peneduh

bintang mengelusku hingga pulas. jatuh, lalu membawa dalam dimensi ruang tak teraih.
lalu gelap, hitam. dan aku sudah tiba lagi. siap kau rengkuh dan benamkan dalam hangat lenganmu dan dingin dadamu.

"ada yang lupa kau bawa malam ini..."
aku menoleh, ke suara dibelakangku.
"apa?" tanyaku acuh, sambil memainkan kerikil oranye di antara jari kakiku.
"coba lihat aku."
aku meluruskan dudukku menghadapnya,
lalu direngkuhnya aku,
"kamu lupa membawa serbuk binar, dan tidak menaburnya pada biji matamu, malam ini"
"aku..."
"aku tau, hujan membawa ceritamu sampai pada sungai sungai malam. dan aku sudah kenyang membacanya."

ah lelaki ini. lelaki dengan mata dingin dan mantel hitam. menjulang dingin, dengan bongkah dada berasap. hangat. dan payung yang selalu dipakainya, seperti teduh yang selalu ia payungkan, pada pundak sayap lusuhku.

"kamu tidak boleh terbang lagi."
"kenapa?"
"kamu lihat, sayapmu lusuh, jemarimu biru biru. lingkar matamu, tidakkah kau lihat hijau dibawah mereka?"
aku diam.
dan merapatkan diri pada hangat dadanya.
dan berbicara melalui peluk dan pejam yang tidak terbaca, kecuali lelaki satu itu.

"hmm."
dan diantara bunyi burung hantu, gumamku adalah jawab atas segala racauannya.
mengusap lenganku, dan sibuk dengan kosong matanya, mata bulatnya yang dingin keabuan.

kami tidak pernah benar benar bercerita.
aku hanya datang, diam, dan masuk menyusup dalam mantelnya. dan ia sudah tau segala tentang duka suka dan rapuh. dan hujan selalu menyanyikan lagu sendu, untuk setiap cerita tak terucap dan peluk kelelahan.
lalu ia akan bermonolog hingga aku ketiduran, seperti nina bobo ibu ibu berisik.
lalu langit akan mengantar, pada rindu yang sudah terjamah, pada kerikil kerikil oranye, dan matahari pengusik. yang aku benci baunya, kita sama sama benci baunya. sinar terang yang menyusupi mata mata kita, dan kamu hilang,
hanya berpesan,
"pulanglah, sudah pagi."

tanpa terjawab,
dan meninggalkan dada terpintal hangat, dan semangkuk serbuk binar untuk hari kedepan.
lelahku, adalah jatuh cinta bertemu kamu.

Selasa, 26 Juli 2011

Tuhan suka bergurau

Aku sayang Tuhanku, tidakkah kamu?

Bagaimana tidak?
Mari ku ceritakan,
kemari merapat dalam sila kakiku,
buatlah lingkaran utuh yang penuh,
jangan sampai Tuhan curiga pada bisikan bisikan kita.
Bagaimana Tuhan menurut kalian?
Tidakkah Ia sangat lucu?
Mau aku ceritakan, lelucon Tuhan yang membuatku tergelak hari ini?
sini, dekatkan kuping kalian dengan suaraku,
Tuhan sangat amat humoris,
hari ini dibuatnya kelingkingku berdarah,
berdarah banyak sekali,
aku terkejut, dan Tuhan malah terbahak bahak diatas sana.
Dia mengerjaiku lagi,
kelingkingku dipatahkan-Nya lagi,
setelah bertahun tahun aku balut lagi,
meskipun dengan goresan goresan kecil,
dan luka sana sini,
ah, rupanya Tuhan malah mematahkannya semua,
seluruh kelingkingku,
yang berusaha aku jaga tanpa sakitnya,
yah,
mungkin tidak bisa tumbuh lagi,
mungkin aku disuruh tidak mempercayai,
lagi.

Minggu, 24 Juli 2011

laki laki akhir pekan

apa yang lebih manis dari duduk di pekarangan,
pada senja dan sabtu,
menunggui minggu,
kamu,
ah lelaki,
aku mencintaimu seperti minggu yang bebas,
yang malas dan sedikit nakal,
dengan kaos kebesaran dan celana super pendek,
lalu tidak mandi seharian,
aku mencintaimu seperti minggu yang tenang,
yang empuk untuk bermalas malasan,
atau sekedar mengecat kuku dan merapikan alis seharian,
tanpa mempedulikan langit yang memerah perlahan.

aku masih tetap bergelembung senang menunggui sabtu berubah menjelma kamu tuan,
dandan wangi wangi agar sesekali ada sesal yang membuatmu kembali pulang,
tapi kenapa gempitaku hanya lalu,
hanya peluk singkat dan genggam tangan menyebrangi matahari minggu yang cepat melaju,
mengantarku kembali senin,
dimana akan ada lama hari lagi untuk merindu,
menunggu bertemu kamu.

Minggu, 17 Juli 2011

kepak kupu dalam perutmu

kakikku digelitik geli,
seperti leherku yang kututupi sedari tadi,
dengan syal merah jambu dan rambut rambut menyembul malu malu,
tertawa kecil dihangat merah jari jarimu,
tertidur diatas dadamu,
menguping kepak kupu kupu dari perutmu,
gesek sayap yang mungkin menyentuh diafragmu,
ah tuan, benarkah mereka terbang menggelitik ususmu layaknya aku?

(np mocca - butterflies in my tummy)

Sabtu, 16 Juli 2011

garis finish

jangan takut bung, aku tidak pernah benar benar jatuh...
maka melepuhlah, seperti muak yang menjadi semakin gelap di tiap terbitnya matahari,
dalam langitku.

Jumat, 08 Juli 2011

satu cangkir teh kedinginan yg lupa dihidangkan

mungkin pernah tuan mendengar, cerita romantik penuh intrik, dengan kesengajaan kesengajaan manis yang mengada ada, lalu bagaimana, kalau seorang apatis menjadi manis pada kesempatan kritis?
dan kritis detik yang berakhir tidak terlalu baik,
maka ada satu cangkir teh kedinginan, yang lupa dihidangkan,
untuk memperpanjang obrolan, tuan.
dan kalau tuhan menyimpan tuan untuk menit ke depan,
lalu bagaimana mempertemukan tanpa ketidaktauan?

Senin, 04 Juli 2011

memaafkan

memaafkan tidak pernah mudah. butuh kompromi dan keikhlasan luar biasa untuk membalik sesuatu yang negatif, menjadi positif lagi dimatamu.
memaafkan itu tidak pernah mudah. kamu perlu berjiwa besar dan menekan ego negatif dalam dirimu.
memaafkan itu tidak pernah mudah. harus pintar pintar me-malaikat-kan hati, menjernihkan emosi, supaya tidak ada yang mengendap tersisa saat sebuah pengampunan dilontarkan.

memaafkan itu sulit. tidak semudah membuat kesalahan yang menuntut maaf.


dan maafku, mungkin yang paling sulit, atas khilaf, dan aku.

Sabtu, 02 Juli 2011

gelembung busa, ku.


aku sedang suka mengingatmu,
sajak sajak singkat,
lukisan kontemporer,
lagu lagu manis.
lalu,
jembatan,
taman bermain,
lalu,
hilang.
semacam,
gelembung busa,
dengan pantul pelangi dipipinya,
lalu meletus,
lalu,
hilang.
semacam,
kamu,
dan aku yang rindu.

Selasa, 28 Juni 2011

imajiner

setidaknya,
terimakasih.

membalut lecet lecet otakku,
menghangatkan dingin tanganku.
tanpa nama.
mungkin kamu bagian dari masa depan,
yang tuhan berikan,
sedikit demi sedikit,
supaya aku tidak terlalu sakit

siapapun,
terimakasih,
atas kunjunganmu kesekian ini,
aku mencintaimu...



laki laki antah berantahku...

Sabtu, 25 Juni 2011

belasungkawa Tuhan

"Aku ingin berjalan bersamamu 
Dalam hujan dan malam gelap
 
Tapi aku tak bisa melihat matamu

Aku ingin berdua denganmu 
Di antara daun gugur
 
Aku ingin berdua denganmu
 
Tapi aku hanya melihat keresahanmu
 

Aku menunggu dengan sabar di atas sini
 
melayang-layang

tergoyang angin, menantikan tubuh itu"



                                              payung teduh - resah


tuhan harus membayar,
satu sloki darah segar,
mawar hitam dengan kelopak besar,
untuk sukar,
dan,
duka cita geming adam yang sabar.

Sabtu, 18 Juni 2011

untuk apa

untuk apa...
sajak sajak telanjang, berdiri kedinginan
pada kalian yang hangat tenang dalam cuap lisan.

untuk apa...
sajak sajak jujur,
pada ruam rongga yang kalian anggap kabur

untuk apa...
sajak sajak sungkan,
pada kalian yang membuncah tanpa segan

untuk apa...
sajak sajak memaklumi,
pada kalian yang merangkuli ego sendiri

untuk apa...
sajak sajak ini selesai,
sajak ini tidak akan usai,
bukan karna dongeng tidak sesuai,
karna diri diri tidak terkuasai.

biar sajak ini melayang,
pada otak pemimpi yang kenyang,
dengan kuasa yang mulai hilang.

dua tanpa peran

ketika kaki kakimu sudah menginjak jarum jarumku
dan badanmu sudah mulai melayang terangkat putaran detikku
dan rambutmu sudah terbang mengikuti gerak kelilingku
hilang dalam bulan,
dan lupa jalan pulang..

mungkin ini waktumu,
mengemasi hatimu dalam boks berpita birumuda,
menata mimpimu dalam stoples kaca,


melepaskan nada,
biar tidak ada yang percuma dari kata mengalah,
tidak ada yang percuma dari tuhan pada pisah,
tidak ada yang percuma dengan jari jari lelah,
tidak ada yang percuma dengan obrolan jengah,

segeralah,
kasihanilah,
dengan waktu yang mulai melilit lehermu,
dan lehernya.

(dan ketika - maliq & d'essentials)

Selasa, 31 Mei 2011

untuk saudaraku, dalam cermin

"saya tau kamu lelah.
menahan adalah sesuatu yang berat,
dan kamu sudah sampai ketitik kejujuranmu.
kamu tidak pernah baik baik saja.
bahkan acuhmu adalah bohong.
menjaga jarak adalah munafik.

saya tau kamu lelah.
menjaga emosimu tersimpan rapi dalam bungkus dagingmu.
menjaga senyum tetap terpasang apik.
ya.
kalaupun tidak terjaga, kamu pun tidak bisa marah.
pada yang satu yang baik itu, pada karibmu.
atau satu lagi.
atas hak apa kamu marah?
atas ikatan karib antara kamu dan yang satu itu?

mungkin kamu menyalahkan,
dari sekian, kenapa harus karibmu.
yang banyak serupa denganmu.
dan mulut mulut tidak bertuan yang membicarakan kalian.
yang membandingkan dengan tidak sopan.
kenapa harus dengan yang satu.
bukan masalah merah jambu.
tapi karna rutinitas yang dipunguti satu persatu,
hingga habis semua untukmu.

mungkin kamu pantas meledak.
dengan sumbu sumbu kecil:
bahwa yang dua itu sudah memerah jambu,
dan pertanyaan pertanyaan yang menyerangmu,
mulut mulut tak berpikir yang sudah tau kamu dan yang satu,
kenapa musti bertanya pada kamu?
bahwa yang dua itu setiap saat beradu,
dan melihat sendiri semua adu adu,
dan hal hal tak wajar bagi seorang yang itu,
ah,
bahkan tulisan ini mungkin tidak pernah objektif,
dan digulung dengan sok tau dan ego mengadu.
subjektif padamu.

kenapa harus yang satu itu?
dan mungkin, kalo seorang lain,
bukanlah hal sulit bagimu untuk beranjak maju.

dan saat semua menyerangmu.
dengan racaun racuan tentang dua itu.
tentang pembandingan.
tentang ikatan.
tentang perasaan.
memojokkan.
bahwa kamu berusaha mengkloning semua tentang karibmu untuk terus maju tidak tau mengalah.
bisakah mulut mulut adam dan lengkingan tawa para hawa itu melihat,
siapa yang lebih dulu,
siapa yang mau untuk serupa,
siapa yang mengalah,
siapa yang tidak mau ribut,
siapa yang tidak mau kehilangan karib,
siapa yang berusaha untuk terus hidup, saat semua tidak mendukung untuk hidup,
siapa yang berusaha mati matian mendindingi diri,
siapa yang berusaha mengikhlaskan,
siapa yang berusaha untuk menutup.



kamu memang bukan perempuan baik,
tapi berusaha menjadi baik,
dan kamu sudah cukup baik untuk berpura pura semua dalam kondisi baik"

Sabtu, 28 Mei 2011

jatuh cinta, pada maya

apa kamu dengar langkah kakiku?
menyebrangi jembatan jembatan otakmu.
menyusup diantara sesak saraf melepuhmu.
berjingkat diantara rindu yang terbungkus apik dari wajah dinginmu.
meloncati gelap kantung matamu.
apa kamu tidak dengar berisik hadirku?
mengusap dingin tulang pipimu.
mewarnai biru bibirmu.
membalut sobek kelingking karibmu.

menuang rindu.
tanpa kau tau.
di tiap hening pejam.
dan baik tuan malam.
menghangat oranye kan hatimu.
dan menyisip balok balokku.
tanpa kau tau.
dengan jagaan paman burung hantu.

mencium kelopakmu,
perempuan dengan debar nanar,
perempuan dengan detak payah,
perempuan dengan puzzle bolong bolong didada.


mungkin kamu membenci ketidak hadiranku,
dalam nyatamu,
absen dari diskusimu,
hilang dari pesta pesta minum teh kita..

terjagalah,
ketahuilah,
jejak jejak dalam jengkalmu,
dan adam dalam suatu bunga lelapmu,
yg mengirimkanmu seorang nyata dalam hidupmu,
dan yang mendamaikanmu dengan pantul nyataku,
waktu itu,

ialah aku,
adam dalam maya yang mencintaimu,
sahabat perempuanku.

(mendengar sayup MIDNIGHT SUN - ENDAH n RHESA, dan seorang yang menyanyikan sampai aku terbangun, terjaga dengan jatuh cinta pada seorang sahabat maya)

menunggui hilang

kepada teman minum kopi,
dengan kepala setengah terlumuti,
dan rongga terbuka dengan hilang hati.

kepada mata yang menggelayut hitam,
seperti senja yang insomnia dan tak segera malam
dan matahari yang menaungimu kelam.

kepada temanku yang hilang,
yang tidak lelah untuk tualang,
dan berayun ayun dalam gantung ilalang

lihatlah tapak kakimu yang gosong,
dan dadamu yang bolong,
tidakkah kau lebih suka obrolan kita dalam sunyi kolong?

Kamis, 26 Mei 2011

mahatahu

kadang kamu begitu ingin banyak tau, seolah sanggup menampung semua bisik tawa dan rintik mata rahasia.
kadang kamu merasa begitu bahagia saat tau segalanya, segala yang diciptakan segilintir orang menjadi tabu dan semu.
kadang kamu suka sok tau, untuk menyenangkan dirimu atas ketidaktauan dan ragu,
kadang tau menjadi mahal, saat semua diam dan tersenyum manis pada ketidakbaikan dibelakang akal.


dan pada kalian mahatahu, terobsesi pada keingin tahuan,
mungkin kalian harus sedikit berhati, pada hati hati yang akan jatuh menggelinding, saat semua tau menjadi tau.

Sabtu, 30 April 2011

menertibkan resah, kesah

dalam kesoktahuan cangkir ini,
biar aku mendalang,
bahwa kita sedang menata peran,
disuatu sudut kota dan aku yang meremang kedinginan,
dan di pinggir jalanan ramai dengan kamu dan lampu kota terang,
tidak akan jadi beban,
perselisihan,

kecuali bila kami sesama penerang persimpangan

Kamis, 21 April 2011

kambing kloningan

sajak sajak mati.
bunuh diri.
buat apa masih tegak berdiri?
dengan otak terbelah,
habis,
dikloning.
buat apa masih bersuara?
kalau isi cangkir sama,
dendangan serupa.
buat apa masih berebut satu layar sama?
kalau memang celupan kami persis,
hanya membuat waktumu menipis.
sajak habis.
menerima nyata serupa sambil meringis.
terkikis.

Rabu, 20 April 2011

anggap saja untukmu

kehabisan gelisah.

mungkin waktu sudah meminumnya habis habisan,
atau badan dan otak saya yang sudah kembali menyesuaikan,
ah,
pembual,
apa yang harus saya sesuaikan?
bukankah ini adalah saya dalam bulan bulan belakangan?
bukankah kamu itu penyesuaian,
dan ini adalah cangkir hidup saya,
yang sudah lama tertimbun kerak kerak sisa kafein disudut sudutnya,
yang tercetak mulut kecil di bibir tuanya.
tidak ada yang berubah, mengubah,
hati hati keramik itu masih tersusun rapi di lemari kacanya,
pun boneka boneka manis berdebu,
tetap,
dan ini tidak menetap,
meski kadang dinding dinding rindu kata,
ubin ubin rindu jejak,
dan atap atap rindu gelak dari bualan bualan bodoh.
tidak ada yang sakit.
hanya merasa baikan, bugar, sehat,
seperti lembar daun yang habis ditiduri hujan semalaman, dan dihembus sejuk lalu bias matahari malu malu.
dan toh,
semua hanya selewat drama dengan peranmu dan tokoh tokoh pembantu,
hanya selewat,
mungkin dalam rongga belakangmu masih suka loncat loncat ingat,
mungkin.

Sabtu, 09 April 2011

puzzle

dari sebuah percakapan maya, dengan teman saya, dan cerita yang lari keluar begitu saja, lalu muncul ini dalam dialog kami:

seperti potongan puzzle yang kehilangan bagian bagiannya, kalau itu sepotongmu yang tertinggal, kalau ia sepotong milikmu, ia akan kembali, bagaimanapun, hingga bisa melengkapi kosong bidangmu, dan menjadi sempurna menjadi gambar yang apik.

dan ternyata dulu itu yang pernah saya katakan padanya, lucu juga saat tiba tiba kata itu berbalik alamat pada pembicaranya. kita memang selalu ahli dalam hidup orang lain, tidak untuk hidup kita sendiri.

bagaimana?
potongan milikku, sejauh apapun kamu terdepak dari jangkauanku,
biar sama sama tau,
kalau sudut sudutmu adalah milik lengkung lengkung ku,
aku yakin kamu punya kaki yang cukup kuat untuk berlari,
dan tangan yang sanggup memanjat,
dindingku,
supaya terjangkau lagi,
biar sama sama tau,
kalau itu benar benar kamu,
atau mungkin yang lain,
karna aku tidak mau bergerak lagi, selain kamu.

Minggu, 03 April 2011

sajak sajak frustasi

sajak sajak frustasi
melompat dari jalan jalan layang
terbang dari tinggi gedung dengan langit membayang
keluar dari kolong kolong jembatan
mengamuk di tepian jalan
meracau tidak karuan

sajak sajak frustasi
membelah diri dan memakani bangkai sendiri
mengunyah lapar lidah sendiri
mencuri nyata manusia yang mengendap fantasi
bertelanjang kaki dan berbaju dengki

terobsesi, dan
lalu bunuh diri

Sabtu, 02 April 2011

entah

Saya tidak tahu.

Saya hanya lelah.

Saya lelah membuntuti,

menunggu dalam bayang mendung.

Langit abu abu, angin kencang dan bayi bayi daun yang menangis kencang diterpa badai.

Tapi tidak juga hujan.

Menolak hangat oranye.

Juga tidak mau bersemu merah jambu.

Entahlah.

(enter)

ini bukan permulaan kalimat.
ini sudah beberapa paragraf.
sudah dimulai.
baru berjalan huruf demi huruf yang saling membuntuti.
sudah beberapa lembar,
dengan cerita berkembang.
tanpa alur.
Tunggu, aku keram untuk menyambung cerita,
tidakkah kamu juga?
Bukankah ini hanya buang buang kertas saja?
Bukankah ini hanya akan jadi seonggok kertas yang dilempar ke dalam tong sampah?
Atau malah hanya menjadi pembungkus cabe di pasar?
Atau alas gorengan penuh minyak?
Bukankah ini bukan cerita?
Ini tidak beralur, tema, dan bahkan judul.
Ini hanya ke egoisan penulis.
Menciptakan dua tokoh tanpa tujuan.

Lelah.
Dan aktor yang diam.
Dan bukankah bisa kita memilih?
Keluar dari cengkram pikiran penulis main main?
Dan aku mengambil langkah duluan,
membubuhi banyak enter denganmu,
memberi sekat,
dan berharap tidak  menjadi seonggok sia sia.
Mekar balita balita melati tanpa hidung.
Enter.
Enter.
Enter.
Enter.
Enter.
Enter.
Enter.
Enter.
Dengan susah payah.
Dengan kemunafikan yang terkadang muncul malu malu, menyerah begitu saja, dan memakan apa yang sudah dipilih.
Enter.
Enter.
Enter.


Hei, bukankah enter hanya penunda?
Hanya sekat kaca tembus pandang.

Bukan kah kita butuh titik?
Titik akhir penegas tidak ada paragraf baru, tidak perlu merajut lagi kata kata baru.
Selesai,
meskipun bukan tamat jalan cerita.

Mau?
Menaruh titik disampingku?
Karna ini sudah pasti, tidak akan menjadi cerita bersambung, iya kan?
Aku serahkan padamu, bubuhan titik disampingku hurufku.

Rabu, 23 Maret 2011

TUA

tetiba ditarik sendu, setelah membaca postingan teman saya, amalia, yang juga saya sukai resep pengolahan katanya.

tetiba saya takut menua.
menyaksikan kulit tangan ini mengering dan bergelambir seperti tangan mami.
lalu muncul bercak bercak putih di permukaan nya.
dan rambut saya yang hitam, harus mengalah digusur uban uban putih.
lalu pipi saya yang akan mengendur, yang menolak ramuan kecantikan.
dan kerut kerut dibawah mata, yang akan jd pendongeng perjalanan hidup saya pada seantero semesta.
saya takut.
menyaksikan orang orang disekitar saya mati,
terlelap lebih dahulu dalam bingkai tanah merah, dan atap bunga bunga.
menyaksikan masa muda saya sudah lewat.
dengan segala manis dan semangatnya.
dan saya menjadi kuno dimata remaja pada zamannya.
bahwa omongan saya jadi terkesan membosankan,
dan memori otak saya karatan, kesusahan mengingat jengkal manis kehidupan yang sudah berjalan.
saya takut tua.
takut tidak  bisa pakai wedges sepuluh centi.
atau docmart delapan lubang sebetis.
atau clogs warna merah jambu.
saya takut jelek didepan suami saya kelak.
biarlah dia tua, dan saya akan merawatnya,
tapi jangan sampai saya mengompol didepannya karna tidak sanggup berjalan ke kamar mandi sendiri,
atau saya bukanlah teman minum teh yang asik seperti awal menikah, karna saya jadi semakin sensitif dan penyendiri, lebih suka tidur siang atau menyulam di ruang tv.
saya takut tidak bisa makan manis manis,
karna gigi saya sudah habis.
saya takut.
juga akan kematian.
saya benci kesendirian.
saat didalam lahat.
sendiri. sepi.
cuma derap kaki, yang sesekali menyambangi menabur harum bunga dan sekeranjang doa masuk surga.

tuhan, boleh saya hidup dalam selamanya belasan?

rasa kembang gula

warna warni lampu neon,
suara berisik mesin pengembang gula.
nada tawa anak anak bergigi tak genap.
balon balon hidrogen.
bianglala.
senyum lelah penjual jajanan.
orang orang lalu lalang dengan senyum terkembang.


asik kan?
dan rumput setengah basah bekas hujan semalam?
yang bayi bayinya tersangkut lumpur dan menempel di sol sepatu kita.
ah.
aku memang pembual.
ya, bahkan kita tidak pernah ke pasar malam.
tapi, otak dan imajinasi kita melebihi serunya pasar itu.
argumen, pernyataan setuju, pertentangan pendapat, pertukaran kepul pikiran, candaan.
tidak spesial sih, tapi seperti masuk wahana taman hiburan, bagaimana menurutmu? seru?

rasa kembang gula.
manis, dan mengembang. seperti simpul senyuman.
rasa kembang gula.
kembang, tp kerut saat dipeluk mulut.
rasa kembang gula.
manis, tapi aku tidak mau merah muda,
seperti kata mama, banyak bahan pewarna, tidak sehat untuk kita,
apa kita juga begitu?
apa suatu saat ini tidak sehat untuk kita?



aku rasa sih begitu,
karna sekarang aku sudah melilit, dan gigiku mulai sakit kemanisan.
kata paman geraham, ini akan segera keropos,
jadi apa aku harus benar benar menghindarimu, tuan kembang gula?

Jumat, 18 Maret 2011

tidak ada krayon abu abu

tidak ada retak, yang kalian harapkan.
ini seperti dialog yang ternyata monolog.
ini bukan biru, karna tidak ada merah jambu.
ini hanya seperti 'dibangunkan'
hei tasha, bangun, sudah pagi!
lalu antara perasaan segar rumput basah dan kopi pagi,
dan punggung yang masih asik bercinta dengan kapuk, lalu marah marah saat ku suruh beranjak.
entah.
aku cuma ingin menjadi 'hanya'
dan ternyata aku kurang cepat mengejar, sehingga lowongan sudah terisi.
dan kerasionalan kalian.
atau mungkin bukan rasional, untuk apa kalian rasional? toh pikiran pikiran kalian, dan selama ini
aku hanya sibuk berjalan dengan pikiran sendiri, dengan pemeran bayangan rekaan.
ah setidaknya,
terimakasih untuk menjalankan drama Tuhan dengan baik.
dan satu,
sebagai anak bumi dewasa;
Bahwa dengan ini Tuhan memberikan skrip anyar. Bahwa hidup ini terlalu banyak 'mungkin'. Bahwa ciptaannya tidak ada yang sama, sesama apapun mereka. Bahwa ini adalah pelambat kaki melangkah. Bahwa Tuhan belum rela membagi dengan siapa siapa

please

kamu pasti tau,
karna monolog bukan hal penting buatmu.
tolong, kamu pasti tau,
seolah kita adalah pertemuan cangkir bau sabun dan kantong teh kering,
kita sudah sama basah,
terendam membusuk berbagi sama,
kamu pasti tahu,
dimana harus kau letakkan mulut otak dan hatimu pada tempatnya,
kita adalah dewasa yang menyikapi semua dengan otak terbuka,
tolong, kamu pasti tau,
kemana harus disimpan argumen mu,
atau bahkan sebelum otakmu membuihkan,
bahwa aku seperti pelunta lunta jalanan yang harus dikasihani, disandiwarai
tolong,
kamu sudah pasti tau,
bahwa sesimpel ucapan, bahwa ini akan selamanya begini
aku cuma ingin jadi cangkir tumpahan, dan sendok teh pengaduk
ah,
sudah pasti kamu tahu,
tolong mengerti, terimakasih, teman.

Selasa, 08 Maret 2011

percaya

ada saatnya, kita harus memeberi rasa percaya pada orang yang tidak seharusnya kita percaya

dalam kelogisan.
dosa itu imbalankah kalau percaya?
bahwa kamu tidak bisa membohongi semesta. bahwa ini tidak bisa bersembunyi dalam kaku bumi. bahwa senyum jatuh pada matahari tua yang tidak pernah disangka. bahwa habis kuota untuk bersuara. 
bahwa kita bermetamorfosis sempurna. bahwa kita tertidur dalam pupa yang membenang lama. bahwa kita bersembunyi dalam abu abu dan malu malu mengupu.
bahwa aku dipaksa percaya, untuk larut lagi dalam dongeng nona imajinasi yang gempita.

mungkin ini terlalu pagi, atau aku yang harus meminum kafein ini sendiri karna percaya gesekan gusi gemelatuk gigi.

selusin peluk

terimakasih mama, untuk suratmu *kecup*


SURAT UNTUK ANAK GADISKU



                                                                                                                         Menjelang 07 maret 2011

Tepat, 07-03-1995 jam 04.55 keluarlah seorang bayi mungil yang cantik…...
Bayi yang ditunggu-tunggu  oleh seorang calon mama, dengan kesakitan yg belum pernah dirasakan
Ooooh….. dengan rasa yang luar biasa, tapi semua itu hilang begitu melihat bidadari yg lucu & cantik
Dan bayi itu diberi nama Fairus Rizkitasari yang berarti rizky yang diberikan oleNya berupa Permata yang tidak ternilai harganya.
Dan  bidadari itu tlah menjelma menjadi seorang Gadis yang sangat luar biasa, mama patut bersyukur  atas karunia yang diberikanNya karena gadisku  telah begitu banyak diberikan talenta olehNya yang tidak  semua anak bisa melakukannya.
Sayangku… waktu itu adalah sesuatu yang nilainya sangat berharga, karena waktu tidak bisa diputar kembali. Isilah waktumu setiap menit setiap detik setiap jam dengan segala talenta dan kepandaianmu, jangan sia2kan waktumu walaupun sedetik .
Masa2 SMU tidak akan bisa diputar ulang sayang cari teman yang punya semangat dan talenta yang besar,karena itu akan bisa membuat kamu di semangat dan berlari mengejar impian dan anganmu.
Gadisku… papa dan mama amat  sayang padamu, kalaupun ungkapan rasa sayang itu kamu anggap   
Kecerewetan mama atau tuntutan mama kepadamu atau kamu kamu merasa papa selalu meminta prestasi dari apa yg kamu minta, itu smua untuk membentuk pribadimu,  ayo semangat kamu anak yang bisa segalanya dimana ……………..smua itu??? Please sayang lepas apapun yg mengikat hatimu, mama akan bantu segalanya untukmu…………..agar kamu bisa menjadi Gadis Cantik dengan segudang PRESTASI
Mama Papa yakin kamu bisa, kami siap untuk mendorongmu ……
Oke cantik semangat terus jangan lelet, jangan malas, jangan menunda, jangan alasan JUST DO IT !!

Sabtu, 05 Maret 2011

perempuan berwajah tertekuk, kami terkutuk

perempuan berwajah tertekuk
dengan dahi kusut berbenang tak terbentuk,
berat matanya menjuntai kebawah,
dan rambut yang diikat kasar bercelah.

perempuan berwajah tertekuk.
dan lipat lelah penabung kantuk
dan wajah dingin peminum rindu,
yang kecanduan dan tidak juga mabuk membuatnya jemu.

perempuan berwajah tertekuk.
hidup sendiri dalam gaung batuk.
hidup dalam bossas radio tua tak ramah..
nyawanya melayang diantara melati kering diseluruh sudut rumah.

perempuan berwajah tertekuk.
dengan frustasi adalah teman tidak berbentuk.
merah jambumu adalah lonceng,
bahwa kucing kucing hitam harus dilepas dari loteng,
memakani rona merah di pipi,
supaya tidak menjamur sakit hati.


perempuan berwajah tertekuk.
semoga penulismu tidak terkutuk.
untuk sama sama menjadi apatis busuk terhadap merah jambu perasuk.

Senin, 28 Februari 2011

sesak, untukmu

"kangen itu sesak.
rasanya paru parumu mau meledak.
kangen itu menyendat.
kadang disaat diam tiba tiba tenggorokanmu tercekat.
kangen itu resah.
badanmu guling kanan kiri diganjal gelisah.
kangen itu racun.
retinamu lebih suka menangkap bayangan maya dalam lamun.
kangen itu gemas.
rasanya persendianmu menyerah lemas.
kangen itu kesah.
saat pipimu dijatuhi air bah.
kangen itu pelumas.
untuk pikiranmu digelayuti cemas."

malam ini, kangen bertamu padaku.
membawa sekardus ingatan dengan lelaki tua, yang istrinya sedang mengobrol hangat denganku.
aku kangen,
gelak tawamu,
goda godamu,
sedan tuamu yang terparkir diparkiran sekolahku,
badan tegapmu melawan dingin pagi,
senyum lebarmu saat bercakap denganku,
bau balsammu,
langkah kakimu,
suaramu,
teh hangatmu,
pecimu,
pelukanmu...
kembalilah sebentar untuk aku melepas kangen padamu

"kamu tidak meninggal. dalam memori ku. dalam kerjap otak ku. kamu masih hidup. dalam saraf saraf ingatanku.
kamu masih memelukku, merangkul bahuku,
tanpa pupilku menangkapmu"

kangen untukmu,
yangkung & 4 bulan tanah menjadi penyekat kita

Sabtu, 26 Februari 2011

TITIK

panjang lebar.
dengan kapital diawal.
aku kira ini akan menjadi novel.
dengan berbagai konflik didalamnya.
ternyata tuhan cuma mau aku kamu menjadi cerpen.
dengan konflik terbatas.
dan paragraf tak bebas.

tidak ada yang kelabu.
tenang.
aku tidak akan melempari biru dalam kelopakmu.
karna biru hanya hujan dari merah jambu,
dan aku kamu terlelap dalam abu abu.
tidak ada yang sendu.
cuma,
aku kira ini akan...
sehangat perempuansore dengan bayukansil
dengan tambang erat dan diskusi ketat.


ah,
mungkin ada bayu bayu lain yang menunggu,
menunggu aku hujan dengan tangan menengadahnya,
disuatu tempat,
dan dimensi yang belum terlewat.

pasti,
menahan aku mendaratkan titik,
karna paragraf tidak mau berhenti berisik.

alarm

kita butuh alarm,
yang terpasang ditanah bumi pepat,
saat langkah kita mulai melambat.

kita butuh alarm,
yang dibuat untuk mengikat,
saat otak kita berlarian dan tersesat.

kita butuh alarm,
yang mengingatkan tenggat,
kalau kita punya tenggat tamat,
kenapa tidak ada tenggat jari kita merapat?

Rabu, 23 Februari 2011

menjadi jendela

pagi menguap.
aku menggerakan tubuh.
menarik nafas dengan paru paru reyotku.
memulai hari sebagai sebuah jendela.
yang kau bentuk dengan jari jarimu.


kaku.
bahkan aku tidak lagi bisa merasakan tulang belakangku.
atau meraba jerawat jerawatku.
aku cuma jendela.
yang sekarang harus hidup dengan kayu lapuk. dingin  kaca. dan perih paku paku,
dalam imajinasimu.

aku sekarang jendela.
sadarkah kamu?
aku? yang melemparkan dunia luar pada retina matamu
ah bahkan otot matamu sibuk memfokuskan kerjap pada dunia luar yang pengap.

aku jendela, berakhir pada hari ini,
aku bukan perempuan yang akan meringkuk sampai basi.
aku bukan taman rekreasi.
atau yang perlu kamu sikapi basa basi.

kamu, si angkuh diatas bumi.
aku spesial. dengan komposisi tuhan dalam tulangku, buih otakku, gerak tanganku.
aku spesial, untuk kamu jadikan hidupku ikal, terbuang sial.

mulutnya berjamur, jariku membusuk. kami kadaluarsa

masih.
sesak.
otak.
sempit.
dibungkam.
wanita picik.
tertawa.
diatas buih otak sempurna.
dan kuota.
yang tidak pernah habis terkikis.
tanpa rasa.
wanita.
menarik tanggal tanggal dalam kalenderku.
menabur cendawa.
menghabisi layar.
meng-kadaluarsa-i aku, sebelum tuhan

Selasa, 22 Februari 2011

halte

satu buah bangku besi panjang,
dengan lima sampai enam dudukan,
dibawah atap seng bocor,
dan lubang lubang penampung becek yang siap diguyur hujan,
juga coretan coretan nakal di tiang tiang penyangga; tempat mereka pernah singgah, untuk kenang kenangan, atau memang karna terkenang

disini,
sekarang beberapa orang datang,
satu orang yang tetap berdiam selama bulanan, tanpa tujuan. yang satu itu, yang terkadang sibuk dengan telefon genggam dan musik beraturan, sepertinya mulai keram.
tetaplah tenang, dibawah atapku lindungi hujan, berbagi kicauan sampai hilang bosan.karna aku tidak menagih kesan.

satu orang, lalu lalang.
dulu dia pernah rutin berkunjung, tapi sekarang sudah mulai jarang. sesekali saja, saat dunia nya sudah monoton, dan jalan jalan sudah bosan ditonton, terkadang ia suka duduk duduk, dan sesekali menggelayut ditiang tiangku, menulis jejaknya di ujung bangku besi.

satu lagi,
aku tidak benar benar kenal. cuma terkadang ia suka bercerita di bawah atap seng ku, atau kadang berkomentar. dan beberapa kali retinanya tertangkap halteku, samar dari jauh jalan persimpangan.

yang ini,
belum berkunjung, belum pernah berteduh dihalteku. yang ini cuma lewat, diujung jalan, memantul di etalase pertokoan diseberang. kadang simpul simpul bibirnya terbang mengitari tiang tiang jalan, dan retina nya beberapa kali mampir di dudukan halte.

halteku.
dengan kursi kursi besi yang mulai dingin.
dan orang orang yang sibuk lalu lalang, tanpa tujuan.
dan bus bus yang tidak mau berhenti.
karna tiket yang sepi, dan halte yang cerewet memilih tiket dibeli

Senin, 14 Februari 2011

day #30 percakapan kantong teh

dari percakapan sore dengan kantong teh, dua sendok krimer, dan 2 sendok gula aren.


kamu sedang jatuh cinta?

lagi lagi,
seperti semesta menghakimi rona merah di pipi.

aku tidak sedang berbunga, atau malu malu merah jambu
aku tidak sedang jatuh cinta, atau malah dimendungi patah hati
aku tidak sedang sedih karna sendiri, atau juga tidak mau berpasangan dengan adam,


ini semua seperti kantong teh melati,
yang segar disesap sendiri, dengan gula rendah kalori,
lalu terkadang bosan, terasa terlalu bening dan butuh dua sendok krimer untuk diaduk, mengisi dan menari dalam rongga mulut 


tapi pada saatnya, kalau bosan ini sudah menjadi penggerogot pikiran,
atau adamku juga butuh dua sendok krimer yang mengisi cangkir melatinya,
aku mau,

mau...
adam yang menerima aku dengan kanvas kanvas ku
dengan bau bensin dan cat belepotan di tangan ku,

menerimaku dengan argumen kritis ku,
dengan diskusi panjang yang membuat bosan

menerimaku dengan lagu lagu dalam daftar putarku,

menerimaku dengan kertas surat kabar yang tertempel menutupi seluruh dinding kamarku,

menerimaku dengan kemeja besar jeans dan sepatu docmart ku

menerima lingkar hitam dibawah mataku,

menerimaku dengan bercangkir cangkir kotor kafein setiap waktu,

menerimaku dengan sajakku,

menerimaku dengan bubuk oregano yang selalu terselip dimasakan masakan kecilku,



menerimaku, seperti aku menerimamu

Minggu, 13 Februari 2011

day #29 pesta kepagian


Pesta kecil dalam kamarku.
Pesta kesiangan untuk aku dan cangkir,
terpaksa paman sore tidak ikut serta meramaikan.
Lihat tamu kecil kita cangkir,
Cupcake coklat dengan selimut kenari panggang,

juga hazelnut panas, tamu tetap beberapa saat lewat.

Dan juga,
Lihat gaun pesta ku hari ini, kemeja tartan kebesaran,
kamu suka cangkir?

Cangkir,
Janji ya padaku,
Jangan pernah tinggalkan aku pesta sendirian,
Balut tawaku dengan bibir keramikmu,
Selimut cerita hangatku dengan gagang cangkirmu yang kedinginan,
Jangan pernah berubah,
Seperti mereka mereka yang sekarang merekah,
Tetaplah jadi teman pesta gadis penuh egois ini
Janji?
Mari lanjutkan dansa kita yang belum selesai

dari aku,