Tampilkan postingan dengan label #kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Januari 2014

ramai pasar, dan kita; berdua

lari lari kecil anak anak berbaju kebesaran, dengan tapak kaki telanjang, menyeka ingus yang dilelehi bau matahari siang
lalu lalang ibu ibu berkeringat dengan tangan menjepit dompet dengan receh uang mengintip di sela sela jahitannya, yang sesekali berhenti di tiap persinggahannya, menawar barang semurah harga kebebasan zaman sekarang
sementara para pedagang sibuk mengipasi pancing pancing uangnya; sayur sayur hijau yang layu, ikan dan bongkah bongkah daging yang menunggui nasib terbeli dengan uang atau dicuri kucing dan anjing jalanan
suara becekan terpijak,
suara lalat lalat mendengung,
para manusia manusia yang sibuk memenuhi hajat hidupnya masing masing,
dan kita yang tersesat diantara kerumunan ramai.
terdistraksi keramaian dari satu panggung ke panggung dagangan yang lain,
berusaha fokus pada tujuan, lalu terbawa arus dan timbul hilang,
sementara rasa sudah disalah artikan sebagai dagangan,
mengikuti arus pasar,
seperti timbang besi yang harus impas antara lalu dan kini,
saat kepala kita dipenuhi logika yang menuntut pembalasan,
agar impas katanya,
mungkin nyeri dada kita menuntut kelegaan yang sama, katanya,
mengikuti arus pasar,
saat sakit kau buat layaknya untung dan rugi,
dan kita yang terlalu lama terombang ambing pasang pasar,
menakar rugi saat sakit yang pernah kita telan tak imbang,
mencari untung rasa seperti barang dagangan.
mungkin kita sudah terlalu jauh,
terbawa,
arus pasar,
dan lupa jalan lengang pulang.



terbawa keramaian pasar, kataku.
terlalu banyak distraksi, katamu.
kita hilang perlahan, katanya.




Minggu, 09 Juni 2013

perahu tua yang menolak karam

hujan sedang deras derasnya pada langit kita,
ibu bulan menangis tersedu melihat kita terombang ambing anak lautan,
sementara badai menerjang kapal dari utara,
mendorong kita mundur pada waktu saling mengasing luka.

kapal kita tak pernah karam tuan,
setidaknya kita selalu berusaha.
kapal kita tidak pernah karam tuan,
setidaknya kita masih dalam gandeng erat kapal reyot ini,
berusaha tidak karam,
dari ombak waktu dan jarak yang semakin melara.

titik hujan dan labirin tak berpintu

mungkin aku adalah sepi yang kau tunggu di keramaian
kursi tua nyaman yang kau cari dalam sesak pasar malam
seteguk air yang kau cari pada kerontang kemarau
kabar baik yang kau tunggu dari televisi yang mengasapkan berita duka

mungkin aku peta yang tak lelah kau telusuri
mungkin aku jalanan kosong yang tak lelah kau cari ujungnya
tanpa kompas, dan menikmati setiap ketersesatanmu disana

kisah ini labirin rimbun dengan setiap kejutan di persimpangannya
tanpa ketenangan
kisah ini labirin rumit dengan banyak cabang yang kau tak tau akhirnya
tanpa perhentian

kalau kisah ini adalah labirin rimbun,
kalau kisah ini adalah labirin rumit,
maka biarkan aku meminta kisah ini hilang dalam pencarian,
karena pintu keluar hanyalah pemisah,
dan dunia luar terlalu berbahaya bagi kita.

kalau aku adalah petunjuk yang kau cari untuk keluar dari perjalanan ini,
karena lelahmu,
karena ketidak adaan aku dalam sunyi senyap perjalananmu
lihatlah titik hujan yang masih menempel di luar jendela,
dan doaku yang tersangkut dari ribuan itu,
mengawasimu dalam diam,
sampai kau benar benar terpejam,
setiap malam.


Kamis, 30 Mei 2013

Jarak dan Sajak yang Mati Sebelum Dituliskan

Dari sekian waktu yang bergerak maju
aku kehabisan kata untuk dituliskan dalam lembar sajak baru
karna kamu tahu?
hanya baris baris sajak setia menunggui aku di kepalamu.
Sementara bayanganku semakin kabur dari pupil matamu
dan debar kita terlalu temaram untuk sebuah temu
dan jari jari kita bersusah payah memeluk punggung masing masing:
merapatkan jarak yang merenggang,
membiarkan kita saling menguatkan sandar masing masing.

Lalu kita tak beda dengan sebuah wacana.
Terlalu jauh untuk sebuah temu sore di kedai kopi langganan kita.
Terlalu maya untuk membuat dekap dekap hangat pada lataran senja.
Terlalu khayal untuk menjelma kita saat berpijak pada waktu yang sama.

Ingatkan aku, menuliskan sajak sajak kita pada jarak
menancapkan ingatanmu pada jalan jalan kosong di keberadaanku,
agar sesak ini tersusun rapi menyusun lengang; untuk kamu telusuri setelah aku pulang.

Selasa, 07 Mei 2013

tenggelam

hari merobeki hari, menghitungnya maju tanpa kita kehendaki.
sementara jam pasir tidak mau menyumpal kandung kemihnya untuk tidak mengencingi ruang pasir di bawahnya, yang semakin lama semakin menenggelamkan kita.
ketenggelaman terdalam pada palung rasa kita masing masing.

aku mengikat kuat tangan kita yang bergandengan erat-dengan rantai beribu gembok yang kehilangan anak kuncinya.
sementara kaki kita ku pasung pada jangkar yang tunduk gravitasi dan jatuh mencium dasar laut kuat.
aku mengekalkan kita pada selimut laut yang luas dan dalam,
seperti rasa yang menjadi gelombang pasang pada rongga masing masing,
sunyi dasar laut gelap yang terpantul pada pupil kita masing masing,
dingin senyap laut malam yang terraba dari jari jari beku kita masing masing.


ada banyak ketenggelaman yang menyisa duka,
dilarung menuju  kehilangan tak bertuan.
dan  hanya dengan kamu, 
ketenggeleman menjadi damai laut tenang, 
dengan kesedihan dilarung jauh tak berpulang.

Minggu, 28 April 2013

bulan merah jambu


bulan sedang merah jambu di luar, terpantul pada dua matamu.
dua mata yang sedang menatap dalam pada pupilku.

ruangan ini sedang ramai ramainya, sekumpulan orang memasung mata mereka pada layar yang menayangkan pertandingan bola, pelayan mondar mandir, kepul asap rokok, bir tumpah, suara obrolan yang menggema memenuhi langit langit.
kita duduk berhadapan pada sebuah sofa persis di tengah tengah ruang. malam hampir larut, mataku sudah agak mengantuk-tapi ia bengal, tetap memaksa menggelayut pada tatapmu.

bulan sedang merah jambu di luar, terpantul pada dua matamu.
dua mata yang sedang menatap dalam pada pupilku.
bulan merah jambu yang memiliki magnetnya sendiri untuk menolak segala distraksi yang ada di ruangan ini.
kamu masih menyanyikan lagu lagumu,
lagu dengan lirik yang familiar karena sering kamu kirim sebelum dan sebangunku tidur.
lirik lirik yang selalu menggelitik ujung ujung bibirku untuk tersenyum tiap harinya.
katamu aku ide terbaik, dan bagaimana lusinan kupu kupu tidak bergesekan senang pada perutku jika semua lirik itu tentang aku? dan kamu tentunya.
kamu meneruskan nyanyianmu pada bait bait baru. bait bait yang menggantung di garis garis dahiku yang bingung.


......langit tetap biru, tuan.
matahari tetap kuning keemasan.
hujan tetap tajam memasung kenangan.
kaki kita masih tetap melangkah bersamaan, beriringan.

sebuah lagu dari tulisanku untukmu.
lalu gelakku tumpah begitu saja bersamaan dengan air mata kecil pada sudut sudut mataku.


bulan sedang merah jambu di luar, terpantul pada dua matamu.
dua mata yang sedang menatap dalam pada pupilku.
bulan sedang merah jambu tuan, terpantul pada dua matamu.
dua mata yang membuatku ingin jatuh berkali kali dan tenggelam di sana,
hanyut selamanya.


Sabtu, 27 April 2013

tanah lapang dalam kepala

Saya suka caramu berlarian dalam kepala saya.
Memungut serpih serpih kesedihan yang tersisa disana.
Memastikan tak ada gerimis kecil yang jatuh lagi.
-
Saya suka caramu berlarian dalam kepala saya.
Meninggalkan jejak senyummu disana.
Mengisi tiap ruas sel otak saya dengan senyum kita.
-
Berlarilah terus.
Saya suka setiap jengkal memori saya yang terisi sesak akan kamu,
bahagia yang berusaha saya bekukan lama lama.
--

--

Sayangnya waktu tidak pernah tunduk,
setia merobeki tanggalan, menggilas jarum detik menit,
menyisakan kita yang berusaha mengekalkan senyum dan rasa masing masing.

Jalan kita sudah melewati lorong ke dua tuan,
 mari mempererat genggam dan saling hilang pada peluk erat bermalam malam, 
menuju perjalan panjang yang tak ada tamat pada lorong lorong berikutnya.

Kamis, 28 Maret 2013

-

langit tetap biru, tuan.
matahari tetap kuning keemasan.
hujan tetap tajam memasung kenangan.
kaki kita masih tetap melangkah bersamaan, beriringan.
layu mataku masih tetap menyukai bayangan dan senyummu tertahan.
lelahku masih tetap mencandu pundakmu untuk menggantung harapan.
segala kekacauanku masih tetap membutuhkan pelukmu untuk membenamkan kecemasan. 

langit tetap biru, tuan.
kita masih punya beribu hari di depan untuk dilahap perbincangan, senyuman, dan pelukan pelukan dalam diam, dalam tenang.
dan terimakasih, untuk tiga puluh pertama ini, 
untuk segala pagi hangat; tanpa cemas genggam kita akan terlepas,
dan untuk segala malam tenang; tanpa takut esok kita terbangun menjadi dua asing yang saling dingin.
terimakasih,
tuan.

Rabu, 27 Februari 2013

stasiun dan kereta tua



aku kereta tua yang lelah berputar mengelilingi kota,
lelah mengikuti takdir rel rel besi yang mengikatku menuju pertemuan pertemuan kesekian,
kamu tahu,
manusia tak bisa menolak pertemuan,
pun memilih dengan siapa dia diberhentikan.
dan aku lelah berbenti di stasiun stasiun yang salah.
stasiun sepi dengan dinding dinding dingin yang acuh.
kamu tahu,
manusia tak bisa menolak pertemuan.
tapi ia bisa memilih untuk bertahan berlama lama pada satu pemberhentian.

dan dititik ini rel semesta menuntunku untuk berhenti di kamu.
entah stasiun ke berapa yang menjadi tempat singgahku, menaruh lelah dan mengisi hangat.
entah stasiun terakhir atau bukan,
tapi kereta ini berhak memilih untuk singgah lebih lama,
karena tau stasiun ini menunggu dengan tabah dan siap menjadi pengobat lelah.

Selasa, 19 Februari 2013

tanpa judul

jangan ragu,

tuhan masih menyimpan skenario terbaik untuk setiap ruam ruam ketidak adilan yang kita pertanyakan, tuan.

Senin, 18 Februari 2013

fase



dari berbagai cerita sepenggal sepenggal tuhan menitipkan pesan, untuk belajar merasa firasat alam dengan lebih peka, menimbang rasa abstrak dengan akal, mengunyah pahit realita tanpa mengernyit dahi, melubangi hati dan memupuk luka sendiri.
dari berbagai cerita sepenggal sepenggal tuhan memberi pelajaran, untuk berteman dengan waktu hingga tahu kapan saat yang tepat untuk berkemas, memungut mimpi dan menyimpan harap pada koper koper penyimpanan. menyudahi perjalanan. belajar melepas dan melupa.

dan saya terlalu sibuk meringkuk dalam sudut gelap cerita.
lupa bahwa tuhan juga mengajarkan membunuh suram, melipat muram, dari lenganmu yang merentang lebar menjadi pengobat.
saya lupa cara menaruh lelah dan memasang binar, setelah lama berjalan, meluka dan mengobat sendiri. lalu serta merta, menolak semburat merah jambu dengan menumpuk selimut selimut ragu, mengubur benih kupu kupu yang mulai menggesek rongga perut kelabu, menyimpan hati hati-hati dalam palung paling tak terjangkau dari yang kamu tau.



dan di fase ini,
satu yang belajar untuk tidak saya lupa, dari berbagai cerita sepenggal sepenggal yang diciptakan tuhan;
untuk berterimakasih pada waktu dan semesta,
dengan menerima segala konspirasi baiknya: yang mewujud kamu.

Minggu, 16 Desember 2012

nowhere end


kalau tuhan menuliskan ini sebagai sebuah perjalanan,
maka saya ingin melambatkan laju kendaraan kita, membuka jendela lebar lebar, menyetel musik kencang kencang, menertawakan kebodohan masing masing,
berhenti di tempat tempat yang kita suka, turun dari mobil dan berjalan kaki telanjang setiap melewati tanah rumput lapang, bernyanyi sumbang, menari kecil di bawah hujan,
kalau tuhan menuliskan ini sebagai sebuah perjalanan,
akan banyak sumpah serapah di tepian jalan dari mulut orang orang,
juga hardik jam pasir yang kita acuhkan detik menitnya,
kalau tuhan menuliskan ini sebagai sebuah perjalanan,
maka saya ingin kita melalui jalan jalan yang salah,
tersesat bersama,


karena saya menikmati perjalanan ini,
tanpa mau menebak dimana tuhan memberi kita alamat,
memberhentikan perjalanan ini, menjadi tamat.

Jumat, 14 Desember 2012

hari tanpa judul


udara sedang hangat hangatnya, dan yang diinginkan sepasang kaki telanjang hanya berlari kecil mengejar matahari yang hampir ditelan tuan lautan, bersama sepasang kaki tegap lainnya.
tertawa keras keras, melakukan hal hal bodoh hingga puas,
dan menarik mundur lembar langit sore agar hari yang tak ingin kau beri judul ini tidak pernah berhenti, bahkan berganti gelap dan dingin seperti bermalam malam sebelum ini.

Selasa, 19 Juni 2012

keranjang marun

aku mengirim sekeranjang paket untukmu sore ini.
tunggu mereka di depan berandamu,
setoples senyum,
sekotak canda,
dan setumpuk semangat dalam sebuah keranjang marun,
yang bisa kau pakai saat senyummu habis tertelan sendu,
yang bisa kau pakai saat tawamu habis termakan muram,
yang bisa kau pakai saat semangatmu habis terbunuh carut marut dunia.

tidak perlu panik,
aku tidak menyertakan seonggok hatiku di keranjang itu,
jadi kau tak perlu cemas harus mengembalikannya padaku,
atau hanya sekedar berpikir harus membalas tulusku dengan apa,


terus semangat,
tuan.