kita sadomasokis untuk diri kita masing masing.
saling menjatuhkan diri pada lubang lubang luka dan tenggelam di dalamnya.
menikmati rintih,
menikmati lara,
terus terjatuh,
dan berharap hati membuat imunnya untuk menolak sakit yang sama,
..manusia :)
Tampilkan postingan dengan label random. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label random. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 16 Februari 2013
Senin, 21 Januari 2013
{rehat}
tuhan terlalu cepat menyuruhmu masuk dalam roda waktuku,
sesederhana itu aku menyuruhmu menunggu di depan pintu diamku.
Minggu, 12 Agustus 2012
cuaca pada langit kita
semesta berangin.
hati membiru dingin.
kita muluk muluk pada ingin.
sehingga muak karna tak ada yang juga ter-amin.
lalu kecewa merimbun beringin.
menjadi butir butir impian miskin.
semesta mendung.
hati mengabu limbung.
kita dua orang kembung,
terlalu banyak menelan janji tertabung.
lalu muallah terisi bohong pada lelambung.
ia terlunta, kecewa dan berkabung.
semesta panas.
hati kering meranggas.
kita menyisa hitam ampas,
menunggu menjadi memori terkelupas.
lalu hilang terbang ringan seperti serat kapas.
saling melupa, asing dan lepas.
hati membiru dingin.
kita muluk muluk pada ingin.
sehingga muak karna tak ada yang juga ter-amin.
lalu kecewa merimbun beringin.
menjadi butir butir impian miskin.
semesta mendung.
hati mengabu limbung.
kita dua orang kembung,
terlalu banyak menelan janji tertabung.
lalu muallah terisi bohong pada lelambung.
ia terlunta, kecewa dan berkabung.
semesta panas.
hati kering meranggas.
kita menyisa hitam ampas,
menunggu menjadi memori terkelupas.
lalu hilang terbang ringan seperti serat kapas.
saling melupa, asing dan lepas.
Minggu, 10 Juni 2012
renung
terkadang kita tidak perlu terlalu mengeras pada skenario tuhan.
terkadang kita tidak perlu terlalu banyak tanya pada ketidaksengajaan cipta tuhan.
terkadang kita hanya perlu duduk dan diam,
menikmati tiap scene yang dirajut tuhan pada film hidup kita,
dengan secangkir kafein yang tepat,
dan berbagi cangkir bersama,
pada orang yang juga tepat.
terkadang kita tidak perlu terlalu banyak tanya pada ketidaksengajaan cipta tuhan.
terkadang kita hanya perlu duduk dan diam,
menikmati tiap scene yang dirajut tuhan pada film hidup kita,
dengan secangkir kafein yang tepat,
dan berbagi cangkir bersama,
pada orang yang juga tepat.
Minggu, 04 Maret 2012
rindu
entah apa yang harus disalahkan dengan detik yang tidak bisa mundur,
tuan malam yang memutar memori ini lamban lamban, dan berhenti pada dua setangah tahun lalu.
bahwa pada satu tempat dan hidup yang berjalan cepat,
banyak yang masuk dan menyesak,
rindu yang menjadi,
entahlah,
momen bertegur sapa, bertukar tawa, atau bahkan hanya saling diam dan saling bersandar,
menghela nafas seolah waktu bukan hal mahal, menjadi mustahil seperti udara yang terlanjur dihirup tanpa bisa mengelak atau mengulang.
ingin sekedar makan mie ayam dan kehujanan bersama, jalan perlahan menuju spbu karna bensin habis, atau sekedar menertawakan hidup bersama pada suatu sore layaknya dulu.
sangat amat merindukan kalian, teman teman.
tuan malam yang memutar memori ini lamban lamban, dan berhenti pada dua setangah tahun lalu.
bahwa pada satu tempat dan hidup yang berjalan cepat,
banyak yang masuk dan menyesak,
rindu yang menjadi,
entahlah,
momen bertegur sapa, bertukar tawa, atau bahkan hanya saling diam dan saling bersandar,
menghela nafas seolah waktu bukan hal mahal, menjadi mustahil seperti udara yang terlanjur dihirup tanpa bisa mengelak atau mengulang.
ingin sekedar makan mie ayam dan kehujanan bersama, jalan perlahan menuju spbu karna bensin habis, atau sekedar menertawakan hidup bersama pada suatu sore layaknya dulu.
sangat amat merindukan kalian, teman teman.
Minggu, 24 Juli 2011
laki laki akhir pekan
apa yang lebih manis dari duduk di pekarangan,
pada senja dan sabtu,
menunggui minggu,
kamu,
ah lelaki,
aku mencintaimu seperti minggu yang bebas,
yang malas dan sedikit nakal,
dengan kaos kebesaran dan celana super pendek,
lalu tidak mandi seharian,
aku mencintaimu seperti minggu yang tenang,
yang empuk untuk bermalas malasan,
atau sekedar mengecat kuku dan merapikan alis seharian,
tanpa mempedulikan langit yang memerah perlahan.
aku masih tetap bergelembung senang menunggui sabtu berubah menjelma kamu tuan,
dandan wangi wangi agar sesekali ada sesal yang membuatmu kembali pulang,
tapi kenapa gempitaku hanya lalu,
hanya peluk singkat dan genggam tangan menyebrangi matahari minggu yang cepat melaju,
mengantarku kembali senin,
dimana akan ada lama hari lagi untuk merindu,
menunggu bertemu kamu.
pada senja dan sabtu,
menunggui minggu,
kamu,
ah lelaki,
aku mencintaimu seperti minggu yang bebas,
yang malas dan sedikit nakal,
dengan kaos kebesaran dan celana super pendek,
lalu tidak mandi seharian,
aku mencintaimu seperti minggu yang tenang,
yang empuk untuk bermalas malasan,
atau sekedar mengecat kuku dan merapikan alis seharian,
tanpa mempedulikan langit yang memerah perlahan.
aku masih tetap bergelembung senang menunggui sabtu berubah menjelma kamu tuan,
dandan wangi wangi agar sesekali ada sesal yang membuatmu kembali pulang,
tapi kenapa gempitaku hanya lalu,
hanya peluk singkat dan genggam tangan menyebrangi matahari minggu yang cepat melaju,
mengantarku kembali senin,
dimana akan ada lama hari lagi untuk merindu,
menunggu bertemu kamu.
Selasa, 31 Mei 2011
untuk saudaraku, dalam cermin
"saya tau kamu lelah.
menahan adalah sesuatu yang berat,
dan kamu sudah sampai ketitik kejujuranmu.
kamu tidak pernah baik baik saja.
bahkan acuhmu adalah bohong.
menjaga jarak adalah munafik.
saya tau kamu lelah.
menjaga emosimu tersimpan rapi dalam bungkus dagingmu.
menjaga senyum tetap terpasang apik.
ya.
kalaupun tidak terjaga, kamu pun tidak bisa marah.
pada yang satu yang baik itu, pada karibmu.
atau satu lagi.
atas hak apa kamu marah?
atas ikatan karib antara kamu dan yang satu itu?
mungkin kamu menyalahkan,
dari sekian, kenapa harus karibmu.
yang banyak serupa denganmu.
dan mulut mulut tidak bertuan yang membicarakan kalian.
yang membandingkan dengan tidak sopan.
kenapa harus dengan yang satu.
bukan masalah merah jambu.
tapi karna rutinitas yang dipunguti satu persatu,
hingga habis semua untukmu.
mungkin kamu pantas meledak.
dengan sumbu sumbu kecil:
bahwa yang dua itu sudah memerah jambu,
dan pertanyaan pertanyaan yang menyerangmu,
mulut mulut tak berpikir yang sudah tau kamu dan yang satu,
kenapa musti bertanya pada kamu?
bahwa yang dua itu setiap saat beradu,
dan melihat sendiri semua adu adu,
dan hal hal tak wajar bagi seorang yang itu,
ah,
bahkan tulisan ini mungkin tidak pernah objektif,
dan digulung dengan sok tau dan ego mengadu.
subjektif padamu.
kenapa harus yang satu itu?
dan mungkin, kalo seorang lain,
bukanlah hal sulit bagimu untuk beranjak maju.
dan saat semua menyerangmu.
dengan racaun racuan tentang dua itu.
tentang pembandingan.
tentang ikatan.
tentang perasaan.
memojokkan.
bahwa kamu berusaha mengkloning semua tentang karibmu untuk terus maju tidak tau mengalah.
bisakah mulut mulut adam dan lengkingan tawa para hawa itu melihat,
siapa yang lebih dulu,
siapa yang mau untuk serupa,
siapa yang mengalah,
siapa yang tidak mau ribut,
siapa yang tidak mau kehilangan karib,
siapa yang berusaha untuk terus hidup, saat semua tidak mendukung untuk hidup,
siapa yang berusaha mati matian mendindingi diri,
siapa yang berusaha mengikhlaskan,
siapa yang berusaha untuk menutup.
kamu memang bukan perempuan baik,
tapi berusaha menjadi baik,
dan kamu sudah cukup baik untuk berpura pura semua dalam kondisi baik"
menahan adalah sesuatu yang berat,
dan kamu sudah sampai ketitik kejujuranmu.
kamu tidak pernah baik baik saja.
bahkan acuhmu adalah bohong.
menjaga jarak adalah munafik.
saya tau kamu lelah.
menjaga emosimu tersimpan rapi dalam bungkus dagingmu.
menjaga senyum tetap terpasang apik.
ya.
kalaupun tidak terjaga, kamu pun tidak bisa marah.
pada yang satu yang baik itu, pada karibmu.
atau satu lagi.
atas hak apa kamu marah?
atas ikatan karib antara kamu dan yang satu itu?
mungkin kamu menyalahkan,
dari sekian, kenapa harus karibmu.
yang banyak serupa denganmu.
dan mulut mulut tidak bertuan yang membicarakan kalian.
yang membandingkan dengan tidak sopan.
kenapa harus dengan yang satu.
bukan masalah merah jambu.
tapi karna rutinitas yang dipunguti satu persatu,
hingga habis semua untukmu.
mungkin kamu pantas meledak.
dengan sumbu sumbu kecil:
bahwa yang dua itu sudah memerah jambu,
dan pertanyaan pertanyaan yang menyerangmu,
mulut mulut tak berpikir yang sudah tau kamu dan yang satu,
kenapa musti bertanya pada kamu?
bahwa yang dua itu setiap saat beradu,
dan melihat sendiri semua adu adu,
dan hal hal tak wajar bagi seorang yang itu,
ah,
bahkan tulisan ini mungkin tidak pernah objektif,
dan digulung dengan sok tau dan ego mengadu.
subjektif padamu.
kenapa harus yang satu itu?
dan mungkin, kalo seorang lain,
bukanlah hal sulit bagimu untuk beranjak maju.
dan saat semua menyerangmu.
dengan racaun racuan tentang dua itu.
tentang pembandingan.
tentang ikatan.
tentang perasaan.
memojokkan.
bahwa kamu berusaha mengkloning semua tentang karibmu untuk terus maju tidak tau mengalah.
bisakah mulut mulut adam dan lengkingan tawa para hawa itu melihat,
siapa yang lebih dulu,
siapa yang mau untuk serupa,
siapa yang mengalah,
siapa yang tidak mau ribut,
siapa yang tidak mau kehilangan karib,
siapa yang berusaha untuk terus hidup, saat semua tidak mendukung untuk hidup,
siapa yang berusaha mati matian mendindingi diri,
siapa yang berusaha mengikhlaskan,
siapa yang berusaha untuk menutup.
kamu memang bukan perempuan baik,
tapi berusaha menjadi baik,
dan kamu sudah cukup baik untuk berpura pura semua dalam kondisi baik"
Rabu, 20 April 2011
anggap saja untukmu
kehabisan gelisah.
mungkin waktu sudah meminumnya habis habisan,
atau badan dan otak saya yang sudah kembali menyesuaikan,
ah,
pembual,
apa yang harus saya sesuaikan?
bukankah ini adalah saya dalam bulan bulan belakangan?
bukankah kamu itu penyesuaian,
dan ini adalah cangkir hidup saya,
yang sudah lama tertimbun kerak kerak sisa kafein disudut sudutnya,
yang tercetak mulut kecil di bibir tuanya.
tidak ada yang berubah, mengubah,
hati hati keramik itu masih tersusun rapi di lemari kacanya,
pun boneka boneka manis berdebu,
tetap,
dan ini tidak menetap,
meski kadang dinding dinding rindu kata,
ubin ubin rindu jejak,
dan atap atap rindu gelak dari bualan bualan bodoh.
tidak ada yang sakit.
hanya merasa baikan, bugar, sehat,
seperti lembar daun yang habis ditiduri hujan semalaman, dan dihembus sejuk lalu bias matahari malu malu.
dan toh,
semua hanya selewat drama dengan peranmu dan tokoh tokoh pembantu,
hanya selewat,
mungkin dalam rongga belakangmu masih suka loncat loncat ingat,
mungkin.
mungkin waktu sudah meminumnya habis habisan,
atau badan dan otak saya yang sudah kembali menyesuaikan,
ah,
pembual,
apa yang harus saya sesuaikan?
bukankah ini adalah saya dalam bulan bulan belakangan?
bukankah kamu itu penyesuaian,
dan ini adalah cangkir hidup saya,
yang sudah lama tertimbun kerak kerak sisa kafein disudut sudutnya,
yang tercetak mulut kecil di bibir tuanya.
tidak ada yang berubah, mengubah,
hati hati keramik itu masih tersusun rapi di lemari kacanya,
pun boneka boneka manis berdebu,
tetap,
dan ini tidak menetap,
meski kadang dinding dinding rindu kata,
ubin ubin rindu jejak,
dan atap atap rindu gelak dari bualan bualan bodoh.
tidak ada yang sakit.
hanya merasa baikan, bugar, sehat,
seperti lembar daun yang habis ditiduri hujan semalaman, dan dihembus sejuk lalu bias matahari malu malu.
dan toh,
semua hanya selewat drama dengan peranmu dan tokoh tokoh pembantu,
hanya selewat,
mungkin dalam rongga belakangmu masih suka loncat loncat ingat,
mungkin.
Sabtu, 02 April 2011
entah
Saya tidak tahu.
Saya hanya lelah.
Saya lelah membuntuti,
menunggu dalam bayang mendung.
Langit abu abu, angin kencang dan bayi bayi daun yang menangis kencang diterpa badai.
Tapi tidak juga hujan.
Menolak hangat oranye.
Juga tidak mau bersemu merah jambu.
Entahlah.
Saya hanya lelah.
Saya lelah membuntuti,
menunggu dalam bayang mendung.
Langit abu abu, angin kencang dan bayi bayi daun yang menangis kencang diterpa badai.
Tapi tidak juga hujan.
Menolak hangat oranye.
Juga tidak mau bersemu merah jambu.
Entahlah.
(enter)
ini bukan permulaan kalimat.
ini sudah beberapa paragraf.
sudah dimulai.
baru berjalan huruf demi huruf yang saling membuntuti.
sudah beberapa lembar,
dengan cerita berkembang.
tanpa alur.
Tunggu, aku keram untuk menyambung cerita,
tidakkah kamu juga?
Bukankah ini hanya buang buang kertas saja?
Bukankah ini hanya akan jadi seonggok kertas yang dilempar ke dalam tong sampah?
Atau malah hanya menjadi pembungkus cabe di pasar?
Atau alas gorengan penuh minyak?
Bukankah ini bukan cerita?
Ini tidak beralur, tema, dan bahkan judul.
Ini hanya ke egoisan penulis.
Menciptakan dua tokoh tanpa tujuan.
Lelah.
Dan aktor yang diam.
Dan bukankah bisa kita memilih?
Keluar dari cengkram pikiran penulis main main?
Dan aku mengambil langkah duluan,
membubuhi banyak enter denganmu,
memberi sekat,
dan berharap tidak menjadi seonggok sia sia.
Mekar balita balita melati tanpa hidung.
Enter.
Enter.
Enter.
Enter.
Enter.
Enter.
Enter.
Enter.
Dengan susah payah.
Dengan kemunafikan yang terkadang muncul malu malu, menyerah begitu saja, dan memakan apa yang sudah dipilih.
Enter.
Enter.
Enter.
Hei, bukankah enter hanya penunda?
Hanya sekat kaca tembus pandang.
Bukan kah kita butuh titik?
Titik akhir penegas tidak ada paragraf baru, tidak perlu merajut lagi kata kata baru.
Selesai,
meskipun bukan tamat jalan cerita.
Mau?
Menaruh titik disampingku?
Karna ini sudah pasti, tidak akan menjadi cerita bersambung, iya kan?
Aku serahkan padamu, bubuhan titik disampingku hurufku.
ini sudah beberapa paragraf.
sudah dimulai.
baru berjalan huruf demi huruf yang saling membuntuti.
sudah beberapa lembar,
dengan cerita berkembang.
tanpa alur.
Tunggu, aku keram untuk menyambung cerita,
tidakkah kamu juga?
Bukankah ini hanya buang buang kertas saja?
Bukankah ini hanya akan jadi seonggok kertas yang dilempar ke dalam tong sampah?
Atau malah hanya menjadi pembungkus cabe di pasar?
Atau alas gorengan penuh minyak?
Bukankah ini bukan cerita?
Ini tidak beralur, tema, dan bahkan judul.
Ini hanya ke egoisan penulis.
Menciptakan dua tokoh tanpa tujuan.
Lelah.
Dan aktor yang diam.
Dan bukankah bisa kita memilih?
Keluar dari cengkram pikiran penulis main main?
Dan aku mengambil langkah duluan,
membubuhi banyak enter denganmu,
memberi sekat,
dan berharap tidak menjadi seonggok sia sia.
Mekar balita balita melati tanpa hidung.
Enter.
Enter.
Enter.
Enter.
Enter.
Enter.
Enter.
Enter.
Dengan susah payah.
Dengan kemunafikan yang terkadang muncul malu malu, menyerah begitu saja, dan memakan apa yang sudah dipilih.
Enter.
Enter.
Enter.
Hei, bukankah enter hanya penunda?
Hanya sekat kaca tembus pandang.
Bukan kah kita butuh titik?
Titik akhir penegas tidak ada paragraf baru, tidak perlu merajut lagi kata kata baru.
Selesai,
meskipun bukan tamat jalan cerita.
Mau?
Menaruh titik disampingku?
Karna ini sudah pasti, tidak akan menjadi cerita bersambung, iya kan?
Aku serahkan padamu, bubuhan titik disampingku hurufku.
Rabu, 23 Maret 2011
TUA
tetiba ditarik sendu, setelah membaca postingan teman saya, amalia, yang juga saya sukai resep pengolahan katanya.
tetiba saya takut menua.
menyaksikan kulit tangan ini mengering dan bergelambir seperti tangan mami.
lalu muncul bercak bercak putih di permukaan nya.
dan rambut saya yang hitam, harus mengalah digusur uban uban putih.
lalu pipi saya yang akan mengendur, yang menolak ramuan kecantikan.
dan kerut kerut dibawah mata, yang akan jd pendongeng perjalanan hidup saya pada seantero semesta.
saya takut.
menyaksikan orang orang disekitar saya mati,
terlelap lebih dahulu dalam bingkai tanah merah, dan atap bunga bunga.
menyaksikan masa muda saya sudah lewat.
dengan segala manis dan semangatnya.
dan saya menjadi kuno dimata remaja pada zamannya.
bahwa omongan saya jadi terkesan membosankan,
dan memori otak saya karatan, kesusahan mengingat jengkal manis kehidupan yang sudah berjalan.
saya takut tua.
takut tidak bisa pakai wedges sepuluh centi.
atau docmart delapan lubang sebetis.
atau clogs warna merah jambu.
saya takut jelek didepan suami saya kelak.
biarlah dia tua, dan saya akan merawatnya,
tapi jangan sampai saya mengompol didepannya karna tidak sanggup berjalan ke kamar mandi sendiri,
atau saya bukanlah teman minum teh yang asik seperti awal menikah, karna saya jadi semakin sensitif dan penyendiri, lebih suka tidur siang atau menyulam di ruang tv.
saya takut tidak bisa makan manis manis,
karna gigi saya sudah habis.
saya takut.
juga akan kematian.
saya benci kesendirian.
saat didalam lahat.
sendiri. sepi.
cuma derap kaki, yang sesekali menyambangi menabur harum bunga dan sekeranjang doa masuk surga.
tuhan, boleh saya hidup dalam selamanya belasan?
tetiba saya takut menua.
menyaksikan kulit tangan ini mengering dan bergelambir seperti tangan mami.
lalu muncul bercak bercak putih di permukaan nya.
dan rambut saya yang hitam, harus mengalah digusur uban uban putih.
lalu pipi saya yang akan mengendur, yang menolak ramuan kecantikan.
dan kerut kerut dibawah mata, yang akan jd pendongeng perjalanan hidup saya pada seantero semesta.
saya takut.
menyaksikan orang orang disekitar saya mati,
terlelap lebih dahulu dalam bingkai tanah merah, dan atap bunga bunga.
menyaksikan masa muda saya sudah lewat.
dengan segala manis dan semangatnya.
dan saya menjadi kuno dimata remaja pada zamannya.
bahwa omongan saya jadi terkesan membosankan,
dan memori otak saya karatan, kesusahan mengingat jengkal manis kehidupan yang sudah berjalan.
saya takut tua.
takut tidak bisa pakai wedges sepuluh centi.
atau docmart delapan lubang sebetis.
atau clogs warna merah jambu.
saya takut jelek didepan suami saya kelak.
biarlah dia tua, dan saya akan merawatnya,
tapi jangan sampai saya mengompol didepannya karna tidak sanggup berjalan ke kamar mandi sendiri,
atau saya bukanlah teman minum teh yang asik seperti awal menikah, karna saya jadi semakin sensitif dan penyendiri, lebih suka tidur siang atau menyulam di ruang tv.
saya takut tidak bisa makan manis manis,
karna gigi saya sudah habis.
saya takut.
juga akan kematian.
saya benci kesendirian.
saat didalam lahat.
sendiri. sepi.
cuma derap kaki, yang sesekali menyambangi menabur harum bunga dan sekeranjang doa masuk surga.
tuhan, boleh saya hidup dalam selamanya belasan?
rasa kembang gula
warna warni lampu neon,
suara berisik mesin pengembang gula.
nada tawa anak anak bergigi tak genap.
balon balon hidrogen.
bianglala.
senyum lelah penjual jajanan.
orang orang lalu lalang dengan senyum terkembang.
asik kan?
dan rumput setengah basah bekas hujan semalam?
yang bayi bayinya tersangkut lumpur dan menempel di sol sepatu kita.
ah.
aku memang pembual.
ya, bahkan kita tidak pernah ke pasar malam.
tapi, otak dan imajinasi kita melebihi serunya pasar itu.
argumen, pernyataan setuju, pertentangan pendapat, pertukaran kepul pikiran, candaan.
tidak spesial sih, tapi seperti masuk wahana taman hiburan, bagaimana menurutmu? seru?
rasa kembang gula.
manis, dan mengembang. seperti simpul senyuman.
rasa kembang gula.
kembang, tp kerut saat dipeluk mulut.
rasa kembang gula.
manis, tapi aku tidak mau merah muda,
seperti kata mama, banyak bahan pewarna, tidak sehat untuk kita,
apa kita juga begitu?
apa suatu saat ini tidak sehat untuk kita?
aku rasa sih begitu,
karna sekarang aku sudah melilit, dan gigiku mulai sakit kemanisan.
kata paman geraham, ini akan segera keropos,
jadi apa aku harus benar benar menghindarimu, tuan kembang gula?
suara berisik mesin pengembang gula.
nada tawa anak anak bergigi tak genap.
balon balon hidrogen.
bianglala.
senyum lelah penjual jajanan.
orang orang lalu lalang dengan senyum terkembang.
asik kan?
dan rumput setengah basah bekas hujan semalam?
yang bayi bayinya tersangkut lumpur dan menempel di sol sepatu kita.
ah.
aku memang pembual.
ya, bahkan kita tidak pernah ke pasar malam.
tapi, otak dan imajinasi kita melebihi serunya pasar itu.
argumen, pernyataan setuju, pertentangan pendapat, pertukaran kepul pikiran, candaan.
tidak spesial sih, tapi seperti masuk wahana taman hiburan, bagaimana menurutmu? seru?
rasa kembang gula.
manis, dan mengembang. seperti simpul senyuman.
rasa kembang gula.
kembang, tp kerut saat dipeluk mulut.
rasa kembang gula.
manis, tapi aku tidak mau merah muda,
seperti kata mama, banyak bahan pewarna, tidak sehat untuk kita,
apa kita juga begitu?
apa suatu saat ini tidak sehat untuk kita?
aku rasa sih begitu,
karna sekarang aku sudah melilit, dan gigiku mulai sakit kemanisan.
kata paman geraham, ini akan segera keropos,
jadi apa aku harus benar benar menghindarimu, tuan kembang gula?
Jumat, 18 Maret 2011
tidak ada krayon abu abu
tidak ada retak, yang kalian harapkan.
ini seperti dialog yang ternyata monolog.
ini bukan biru, karna tidak ada merah jambu.
ini hanya seperti 'dibangunkan'
hei tasha, bangun, sudah pagi!
lalu antara perasaan segar rumput basah dan kopi pagi,
dan punggung yang masih asik bercinta dengan kapuk, lalu marah marah saat ku suruh beranjak.
entah.
aku cuma ingin menjadi 'hanya'
dan ternyata aku kurang cepat mengejar, sehingga lowongan sudah terisi.
dan kerasionalan kalian.
atau mungkin bukan rasional, untuk apa kalian rasional? toh pikiran pikiran kalian, dan selama ini
aku hanya sibuk berjalan dengan pikiran sendiri, dengan pemeran bayangan rekaan.
ah setidaknya,
terimakasih untuk menjalankan drama Tuhan dengan baik.
dan satu,
sebagai anak bumi dewasa;
Bahwa dengan ini Tuhan memberikan skrip anyar. Bahwa hidup ini terlalu banyak 'mungkin'. Bahwa ciptaannya tidak ada yang sama, sesama apapun mereka. Bahwa ini adalah pelambat kaki melangkah. Bahwa Tuhan belum rela membagi dengan siapa siapa
ini seperti dialog yang ternyata monolog.
ini bukan biru, karna tidak ada merah jambu.
ini hanya seperti 'dibangunkan'
hei tasha, bangun, sudah pagi!
lalu antara perasaan segar rumput basah dan kopi pagi,
dan punggung yang masih asik bercinta dengan kapuk, lalu marah marah saat ku suruh beranjak.
entah.
aku cuma ingin menjadi 'hanya'
dan ternyata aku kurang cepat mengejar, sehingga lowongan sudah terisi.
dan kerasionalan kalian.
atau mungkin bukan rasional, untuk apa kalian rasional? toh pikiran pikiran kalian, dan selama ini
aku hanya sibuk berjalan dengan pikiran sendiri, dengan pemeran bayangan rekaan.
ah setidaknya,
terimakasih untuk menjalankan drama Tuhan dengan baik.
dan satu,
sebagai anak bumi dewasa;
Bahwa dengan ini Tuhan memberikan skrip anyar. Bahwa hidup ini terlalu banyak 'mungkin'. Bahwa ciptaannya tidak ada yang sama, sesama apapun mereka. Bahwa ini adalah pelambat kaki melangkah. Bahwa Tuhan belum rela membagi dengan siapa siapa
please
kamu pasti tau,
karna monolog bukan hal penting buatmu.
tolong, kamu pasti tau,
seolah kita adalah pertemuan cangkir bau sabun dan kantong teh kering,
kita sudah sama basah,
terendam membusuk berbagi sama,
kamu pasti tahu,
dimana harus kau letakkan mulut otak dan hatimu pada tempatnya,
kita adalah dewasa yang menyikapi semua dengan otak terbuka,
tolong, kamu pasti tau,
kemana harus disimpan argumen mu,
atau bahkan sebelum otakmu membuihkan,
bahwa aku seperti pelunta lunta jalanan yang harus dikasihani, disandiwarai
tolong,
kamu sudah pasti tau,
bahwa sesimpel ucapan, bahwa ini akan selamanya begini
aku cuma ingin jadi cangkir tumpahan, dan sendok teh pengaduk
ah,
sudah pasti kamu tahu,
tolong mengerti, terimakasih, teman.
karna monolog bukan hal penting buatmu.
tolong, kamu pasti tau,
seolah kita adalah pertemuan cangkir bau sabun dan kantong teh kering,
kita sudah sama basah,
terendam membusuk berbagi sama,
kamu pasti tahu,
dimana harus kau letakkan mulut otak dan hatimu pada tempatnya,
kita adalah dewasa yang menyikapi semua dengan otak terbuka,
tolong, kamu pasti tau,
kemana harus disimpan argumen mu,
atau bahkan sebelum otakmu membuihkan,
bahwa aku seperti pelunta lunta jalanan yang harus dikasihani, disandiwarai
tolong,
kamu sudah pasti tau,
bahwa sesimpel ucapan, bahwa ini akan selamanya begini
aku cuma ingin jadi cangkir tumpahan, dan sendok teh pengaduk
ah,
sudah pasti kamu tahu,
tolong mengerti, terimakasih, teman.
Selasa, 08 Maret 2011
selusin peluk
terimakasih mama, untuk suratmu *kecup*
SURAT UNTUK ANAK GADISKU
Menjelang 07 maret 2011
Tepat, 07-03-1995 jam 04.55 keluarlah seorang bayi mungil yang cantik…...
Bayi yang ditunggu-tunggu oleh seorang calon mama, dengan kesakitan yg belum pernah dirasakan
Ooooh….. dengan rasa yang luar biasa, tapi semua itu hilang begitu melihat bidadari yg lucu & cantik
Dan bayi itu diberi nama Fairus Rizkitasari yang berarti rizky yang diberikan oleNya berupa Permata yang tidak ternilai harganya.
Dan bidadari itu tlah menjelma menjadi seorang Gadis yang sangat luar biasa, mama patut bersyukur atas karunia yang diberikanNya karena gadisku telah begitu banyak diberikan talenta olehNya yang tidak semua anak bisa melakukannya.
Sayangku… waktu itu adalah sesuatu yang nilainya sangat berharga, karena waktu tidak bisa diputar kembali. Isilah waktumu setiap menit setiap detik setiap jam dengan segala talenta dan kepandaianmu, jangan sia2kan waktumu walaupun sedetik .
Masa2 SMU tidak akan bisa diputar ulang sayang cari teman yang punya semangat dan talenta yang besar,karena itu akan bisa membuat kamu di semangat dan berlari mengejar impian dan anganmu.
Gadisku… papa dan mama amat sayang padamu, kalaupun ungkapan rasa sayang itu kamu anggap
Kecerewetan mama atau tuntutan mama kepadamu atau kamu kamu merasa papa selalu meminta prestasi dari apa yg kamu minta, itu smua untuk membentuk pribadimu, ayo semangat kamu anak yang bisa segalanya dimana ……………..smua itu??? Please sayang lepas apapun yg mengikat hatimu, mama akan bantu segalanya untukmu…………..agar kamu bisa menjadi Gadis Cantik dengan segudang PRESTASI
Mama Papa yakin kamu bisa, kami siap untuk mendorongmu ……
Oke cantik semangat terus jangan lelet, jangan malas, jangan menunda, jangan alasan JUST DO IT !!
Senin, 28 Februari 2011
sesak, untukmu
"kangen itu sesak.
rasanya paru parumu mau meledak.
kangen itu menyendat.
kadang disaat diam tiba tiba tenggorokanmu tercekat.
kangen itu resah.
badanmu guling kanan kiri diganjal gelisah.
kangen itu racun.
retinamu lebih suka menangkap bayangan maya dalam lamun.
kangen itu gemas.
rasanya persendianmu menyerah lemas.
kangen itu kesah.
saat pipimu dijatuhi air bah.
kangen itu pelumas.
untuk pikiranmu digelayuti cemas."
malam ini, kangen bertamu padaku.
membawa sekardus ingatan dengan lelaki tua, yang istrinya sedang mengobrol hangat denganku.
aku kangen,
gelak tawamu,
goda godamu,
sedan tuamu yang terparkir diparkiran sekolahku,
badan tegapmu melawan dingin pagi,
senyum lebarmu saat bercakap denganku,
bau balsammu,
langkah kakimu,
suaramu,
teh hangatmu,
pecimu,
pelukanmu...
kembalilah sebentar untuk aku melepas kangen padamu
"kamu tidak meninggal. dalam memori ku. dalam kerjap otak ku. kamu masih hidup. dalam saraf saraf ingatanku.
kamu masih memelukku, merangkul bahuku,
tanpa pupilku menangkapmu"
kangen untukmu,
yangkung & 4 bulan tanah menjadi penyekat kita
rasanya paru parumu mau meledak.
kangen itu menyendat.
kadang disaat diam tiba tiba tenggorokanmu tercekat.
kangen itu resah.
badanmu guling kanan kiri diganjal gelisah.
kangen itu racun.
retinamu lebih suka menangkap bayangan maya dalam lamun.
kangen itu gemas.
rasanya persendianmu menyerah lemas.
kangen itu kesah.
saat pipimu dijatuhi air bah.
kangen itu pelumas.
untuk pikiranmu digelayuti cemas."
malam ini, kangen bertamu padaku.
membawa sekardus ingatan dengan lelaki tua, yang istrinya sedang mengobrol hangat denganku.
aku kangen,
gelak tawamu,
goda godamu,
sedan tuamu yang terparkir diparkiran sekolahku,
badan tegapmu melawan dingin pagi,
senyum lebarmu saat bercakap denganku,
bau balsammu,
langkah kakimu,
suaramu,
teh hangatmu,
pecimu,
pelukanmu...
kembalilah sebentar untuk aku melepas kangen padamu
"kamu tidak meninggal. dalam memori ku. dalam kerjap otak ku. kamu masih hidup. dalam saraf saraf ingatanku.
kamu masih memelukku, merangkul bahuku,
tanpa pupilku menangkapmu"
kangen untukmu,
yangkung & 4 bulan tanah menjadi penyekat kita
Langganan:
Postingan (Atom)