Minggu, 23 Maret 2014

Seumpama

Seumpama senja menjadi jenuh.
Merajut pengulangan pengulangan yang hanya menjadi semu dan hilang;
matahari jatuh perlahan - awan menirai terik menggantinya keunguan - bulan siap berlayar pelan - lalu malam lahir seperti tangisan diam diam.

Lalu,
aku senja yang begitu saja.
Yang hilang tabah rebahnya menanti pergantian malam.

Seumpama,
jenuh begitu mengaduk,
lalu,
begitu saja kita adanya,
hilang perlahan seperti siang yang mati dan malam yang mengakusisi.

Dan menjadi umpama,
tidak ada lagi senja dalam langitmu esok.

                                                          bagaimana?

Minggu, 23 Februari 2014

Perjalanan.

Dahaga.
Seperti musafir.
Pada sebuah perhentiannya.
Tertegun bingung pada pasir di sekelilingnya, akan terik sengat matahari mahsyar, hilang kendali atas apa yang ia pahami tentang perjalanannya.
Dahaga akan diri yang menguap di telan kerontang padang pasir, lalu tersesat dan sekarat dengan bekal mimpinya yang meleleh jatuh bersama keringatnya.
Habis.
Lalu menjadi dahaga besar yang merapuhkan imannya.
Dahaga.

Habis.
Tersesat, sekarat, dengan lepuh lebam yakinnya tentang makna sebuah destinasi.

Jumat, 31 Januari 2014

ramai pasar, dan kita; berdua

lari lari kecil anak anak berbaju kebesaran, dengan tapak kaki telanjang, menyeka ingus yang dilelehi bau matahari siang
lalu lalang ibu ibu berkeringat dengan tangan menjepit dompet dengan receh uang mengintip di sela sela jahitannya, yang sesekali berhenti di tiap persinggahannya, menawar barang semurah harga kebebasan zaman sekarang
sementara para pedagang sibuk mengipasi pancing pancing uangnya; sayur sayur hijau yang layu, ikan dan bongkah bongkah daging yang menunggui nasib terbeli dengan uang atau dicuri kucing dan anjing jalanan
suara becekan terpijak,
suara lalat lalat mendengung,
para manusia manusia yang sibuk memenuhi hajat hidupnya masing masing,
dan kita yang tersesat diantara kerumunan ramai.
terdistraksi keramaian dari satu panggung ke panggung dagangan yang lain,
berusaha fokus pada tujuan, lalu terbawa arus dan timbul hilang,
sementara rasa sudah disalah artikan sebagai dagangan,
mengikuti arus pasar,
seperti timbang besi yang harus impas antara lalu dan kini,
saat kepala kita dipenuhi logika yang menuntut pembalasan,
agar impas katanya,
mungkin nyeri dada kita menuntut kelegaan yang sama, katanya,
mengikuti arus pasar,
saat sakit kau buat layaknya untung dan rugi,
dan kita yang terlalu lama terombang ambing pasang pasar,
menakar rugi saat sakit yang pernah kita telan tak imbang,
mencari untung rasa seperti barang dagangan.
mungkin kita sudah terlalu jauh,
terbawa,
arus pasar,
dan lupa jalan lengang pulang.



terbawa keramaian pasar, kataku.
terlalu banyak distraksi, katamu.
kita hilang perlahan, katanya.




Jumat, 17 Januari 2014

tanpa judul

kamu hilang dalam keterasingan kata yang entah.

ku lempar kailku dalam-dalam,
menjala ia pada dua matamu;
tapi tak ku temukan kamu meringkuk di situ.

Sabtu, 09 November 2013

Lingkar.

Apa yang paling ditakutkan pemanjat tebing pada dakian adalah apa yang paling diingankan seorang kamu untukku.
Jatuh.
Padahal panjatanku sudah cukup tinggi untuk menemukan tebing layak demi menghabiskan sisa sore kita, tapi kamu masi sibuk menarik tali pengamanku untuk jatuh menujumu.
Entah kamu seperti pelukis yang mendambakam esensi, dan keterjatuhanku seolah titik pusaran segala pencarianmu pada labirinku.
Padahal isap rokok tak disulut pun seharusnya lebih abadi dari apa yang berusaha kamu abadikan pada kita, tanpa harus menimpaku batu batu beban agar jatuh tersimpuh patuh.
Padahal aku sudah cukup menggulung pagi untuk menolak aroma lain selain kamu. Tapi rupanya bekalku tak cukup untuk membebani timbang ragumu, tetap membuatnya berayun lalu menyisa mual yang perih di apa yang kamu bilang rasa.
Lalu apa lagi perihal rasa yang entah semakin jauh hilang dari kosakata yang mudah kita mengerti? Semakin rumit seperti sajak sajak penyair buta huruf yang tak sampai maksudnya.
Dan kita seperti bait menyambung bait beruntun, kadan runtun lalu tak sambung, berulang hingga kita hafal alurnya.
Alur cerita yang gagap menemukan akhir yang pantas, agar tak lagi diretas oleh segala kamu dan ragu ragamu.

Minggu, 27 Oktober 2013

Pertanyaan tanpa jawaban.

Saat langit langit mimpi semakin menjauh dari ketergapaian,
dan dinding berpigura ambisi ambisi kecil mulai meluas,
lalu lantai kayu ini mulai jauh dari keseimbangan,
meninggalkan gadis di atas tempat tidur yang meringkuk goyah di antara lengang.

Ruang ini sesak dengan balon balon mimpi yang ditiupnya sedari kanak,
dan gadis ini mulai kewalahan dan lelah meniup, membenci lengang realita yang berusah dimuntahkan dari mual rutinitas, lalu letih dan mulai tergoda realistis untuk menelan ikhlas,
memecah balonnya satu persatu, mencari maksud dari kebimbangan dan segala yang tak terwujud nyata.

Lalu ruang ini terbelah, separuh lengang dengan balon balon menipis di permukaan lelangit kamar, menyisa tanda tanya besar pada tuhan.
Ada ragu yang tersendat di pusat pikirnya, diantara mimpi yang semakin jauh dan nyata yang begitu dekat dipijak dengan segala getir.
Ada bimbang yang begitu jelas terpantul di matanya, tentang menerima kebencian dan menjalani tantangan mimpi tuhan, dengan sisa separuh akalnya, terperangkap dalam tubuh kebingungan,

melahap segala pertanyaan alam,
tanpa jawaban.

Jumat, 19 Juli 2013

selaras

kekosongan tercetak jelas pada gelayut hitam kantung matamu,
lalu disusul hitam pupilmu yang menelan pantul maya tak nyata pada apapun di hadapanmu,
dan geming mulutmu yang sebisa mungkin membuat sunyi terisi penuh dengung kekosongan pada telingamu.

ada pilu yang berusaha kau telan mentah mentah, tapi ia masih tersangkut di kerongkonganmu, dan selalu dapat kulihat bayangannya tepat di bawah jakunmu, menolak hilang dalam telan susah payahmu.

ada tenang yang kosong berdesir di nadi pergelanganmu. satu hal yang selalu bisa mengimbangi ramai keluar masuk bayanganmu dalam sel sel otakku.

langit tertidur pulas menunggui kita saling bersandar menceritakan keluh masing masing.
terlalu banyak yang harus kita selaraskan; langkah, genggam, nafas.
sementara waktu terus beradu, memukuli jejak kita yang menipis di setapak belakang.

dan hangat ini berat menyeret langkah kita agar tak terlalu cepat,
meminta memori ditulis lambat lambat,
agar lebih kuat tertambat,
di bongkah dada kita masing masing hingga jauh dari tamat.