Senin, 21 Januari 2013

{rehat}


tuhan terlalu cepat menyuruhmu masuk dalam roda waktuku,
sesederhana itu aku menyuruhmu menunggu di depan pintu diamku.

tanah lapang

kepalaku masih sedikit basah,
hujan mengguyur terlalu deras belakangan,
dan setapak kakimu masih membekas dalam,
meninggalkan becek bekas larianmu bermain hujan.
kepalaku masih sedikit basah,
persis seperti tanah lapang yang kita lihat sore itu,
tanah lapang dengan sedikit rumput basah karena gerimis semalaman,
meninggalkan dingin dan genangan air mata awan,

mereka; lapangan dan otakku sama sama lengang.

gemamu masih terpantul pantul di bilik kepalaku,
dan setapakmu hanya menunggui hilang ditiup debu,
lalu yang bisa disimpan dari kita hanya setoples kecil kenangan,
kuletakkan mereka di sudut lemari pajangan,
sebagai pelajaran untuk tidak menjatuhkan peluk serampangan, menggantungkan lelahku pada pundakmu sembarangan.


Selasa, 01 Januari 2013

gerimis kecil dan jalan aspal

maaf tuan,
saya  bukan deras hujan yang jatuh menghantam pori keras jalananmu dengan lantang,
lalu menyanyikan kesakitan sepanjang dingin aspal,
berdesakan bersama air lainnya menjadi selimut genangan yang menyesakkan,
dan masuk berebutan ke perutmu melalui lubang dingin gorongan gorongan.

saya gerimis yang menggelantung tua pada awan,
jatuh dengan cemas ke daratan.
memilih jalan termenyenangkan untuk kembali ke lautan.
bukan, saya bukan hujan yang kamu harapkan.
saya gerimis kecil yang lebih suka jatuh perlahan diantara rerumputan,
meski dengan jejak tanah belepotan,
menciptakan petrichor untuk para sajak kesepian.
bukan, saya bukan hujan yang kamu inginkan.
saya gerimis yang lebih suka jatuh menari tengah malam dihangatkan lampu jalanan.
bukan gerimis senja yang memabukkan berpasang pasang para kasmaran.

pun, kamu bukan daratan yang saya ingin sembunyi dalam perutmu bermalam malam,
dinding otakmu terlalu dingin,
saya tak suka berlama lama berlarian di dalamnya,
bahkan untuk sekedar meninggalkan sekeranjang kecup perpisahan.

Sabtu, 29 Desember 2012

hidup

hidup  menyajikan cangkir cangkir kecil di meja di hadapan kita.
semuanya berisi kopi dengan takaran yang berbeda.
semuanya harus kita cicipi, satu persatu,
dari racikan terpahit, terlalu kental hingga yang terlampau manis,
hanya untuk menemukan secangkir kopi terbaik kita,
dengan takaran yang pas,
yang akan kita nikmati setiap teguknya lambat lambat.
dan saya dalam masa kelu,
lelah mencicipi satu persatu,
lelah membuang bercangkir cangkir kopi tak tepat sebelum menemukanmu.

Minggu, 16 Desember 2012

nowhere end


kalau tuhan menuliskan ini sebagai sebuah perjalanan,
maka saya ingin melambatkan laju kendaraan kita, membuka jendela lebar lebar, menyetel musik kencang kencang, menertawakan kebodohan masing masing,
berhenti di tempat tempat yang kita suka, turun dari mobil dan berjalan kaki telanjang setiap melewati tanah rumput lapang, bernyanyi sumbang, menari kecil di bawah hujan,
kalau tuhan menuliskan ini sebagai sebuah perjalanan,
akan banyak sumpah serapah di tepian jalan dari mulut orang orang,
juga hardik jam pasir yang kita acuhkan detik menitnya,
kalau tuhan menuliskan ini sebagai sebuah perjalanan,
maka saya ingin kita melalui jalan jalan yang salah,
tersesat bersama,


karena saya menikmati perjalanan ini,
tanpa mau menebak dimana tuhan memberi kita alamat,
memberhentikan perjalanan ini, menjadi tamat.

Sabtu, 15 Desember 2012

abu abu


seperti cangkir kopi yang terkadang kau buat amat manis karena harimu terlalu pahit,
seperti realita yang kau basahi gerimis karena mimpi terlalu kering untuk saling mengapit,

malangnya aku bukan sendok gula yang bisa kau takar untuk cangkir harimu,
bukan juga persimpangan jalan yang bisa kau pilih untuk melintas sesukamu,

karena hujan masih terlalu awal untuk kuyup,
karena pagi masih terlalu dini untuk digelapi malam,
karena rongga ini terlalu abstrak untuk kau tebak ronanya,
berhati hatilah pada semburat hitam dan putihku yang siap mengabu abukanmu, telak, tuan.

Jumat, 14 Desember 2012

hari tanpa judul


udara sedang hangat hangatnya, dan yang diinginkan sepasang kaki telanjang hanya berlari kecil mengejar matahari yang hampir ditelan tuan lautan, bersama sepasang kaki tegap lainnya.
tertawa keras keras, melakukan hal hal bodoh hingga puas,
dan menarik mundur lembar langit sore agar hari yang tak ingin kau beri judul ini tidak pernah berhenti, bahkan berganti gelap dan dingin seperti bermalam malam sebelum ini.