Minggu, 21 Februari 2016

menetaplah


pagi sudah setengah siang,
hanya ada kita, diantara diam.
menyesap keheningan, yang enggan pecah dengan obrolan panjang.
berjalan kita pada setapak tak bermuara,
dengan langkah yang kebingungan untuk mengayun padu,
terlalu banyak  sekat yang memilih untuk saling tidak tau.

dan punggungku sudah kaku menghadap terik harapan,
hanya sesekali kamu mengguyurnya dengan hujan.
dan tubuhmu memilih dingin yang tak harap ku kenal,
hanya karena lelahmu menyusuri ketersesatanmu pada rumitku.

terengah kita pada keasingan temu,
dan hilang timbul debar beradu,
akan kah langit memilih mengabu?
meninggalkan kita di tengah ragu pada apa yang satu?

padamu,
dan tenggelamku pada ketersesatan laut kata,
akan kah ini tak akan kemana?

lalu jika ini tak menjadi cerita bertitik,
mau kah tuan sekedar ada dan menyumbang beberapa baris kata,
agar ku lanjutkan sendiri alurnya,
seperti apa yang dirasa kemarau dengan percikan hujan.
tetaplah ada, meski dengan ketiadaan,
tetaplah berirama, diantara sunyi dan riuh pikiran,
tetaplah berpegang, dengan segala mungkin yang akan terlepas,

meski kita adalah dua yang lengah dan lelah,
di antara keterombang-ambingan maksud tuhan,

tetaplah,
menetaplah.





Minggu, 27 Desember 2015

jungkat-jungkit

layaknya kehidupan adalah perjalanan panjang,
berisi keterjebakan manusia pada;
kematian, dan kehidupan
perpisahan, dan pertemuan
kesedihan, dan kebahagiaan.
dosakah manusia untuk larut pada satu perhentian;
terjebak ia pada lelah dan istirahat panjang.
padahal waktu adalah penggerogot kehidupan,
berlari ia mengejar siapa yang tenggelam dalam diam,
bukankah kelam melahirkan binar riang diam-diam,
ataukah manusia yang mendamba pesakitan?

sementara hidup berisi sendu dan senang bergantian,
merakit jauh ia berlayar patuh,
dan bukankah kesepakatan tuhan;
gelap dan terang beranak pinak mereka menjadi jurang dan bukit kehidupan.
berpasangan mereka,
dan tak satu dari mereka bisa diberhentikan.

lalu haruskah,
manusia menyimpan hatinya untuk tak larut pada satu diantaranya,
karena waktu menolak kekal,
karena tawa melahirkan tangis kelam,
karena senang melahirkan sendu muram,
dan beranak pinak mereka menjadi pengulangan.

lalu haruskah,
manusia menjadi mati rasa akan pelayaran jauhnya,
bukankah,
waktu tak akan tinggal dan diam?
bukankah,
kita selalu tergesa untuk sekedar menikmati pemberhentian?
bukankah,
tuhan serakah meninggalkan manusia untuk selalu resah?

dan bukankah,
manusia menjadi budak dengan kebingungan panjang?
dan teman manusia hanya kehampaan di antara ombak dan laut tenang perjalanan?
layaknya kehidupan adalah perjalanan panjang,
bukankah kehidupan adalah kejahatan?
dan kita,
terjebak pada permainan tuhan?

Rabu, 09 Desember 2015

titik

seperti geming telfon tak bersuara ia diujungnya,
padanya kah menggantung jawab akan hening yang tak kunjung bersautan?

seperti daun daun layu yang berserak diantara mekar rekah kita,
pada ia kah kematian kita terasa mengabu untuk dikubur?

seperti riak riak kecil mengecoh ombak pada lautan kita,
padanya kah layaran ini terasa tersesat dan tak mengujung?

seperti hujan rintik pada sepenggal lembaran langit cerah,
pada ia kah genggam kita melapuk renggang melembab tanya?

seperti seonggok pensil kayu berjamur pada buku tebal kita,
padanya kah cerita ini mengabu untuk dirajut dan ditutup?


pada ke antah berantahan tuju,
pada alun gramaphone yang semakin mengalun hening,
pada debu dan sarang lelaba memenuh ruang bincang,
pada diri yang mengering satu sama lain,

beristirahatlah kita dengan tenang,
bersama peti kemas berisi raung, senang dan bimbang,
beristirahatlah,
berpulanglah,
pada tuju masing-masing,
tanpa perlu mengasing,
dengan tenang,
dalam diam.
melepaslah,
segala peluh dan kesah,
berpulanglah,


kita.

Jumat, 30 Januari 2015

Terkadang melepaskan begitu melegakan.
Keluar dari perangkap akar akar merumit kepala,
berjalan sendirian menyambut gelombang ombak tinggi yang membawamu ke keterdamparan antah berantah yang sunyi.
Menjadi entah yang asing.

Bukankah manusia lahir hidup dan hilang seorang diri, bersama angin?

Kamis, 01 Januari 2015

kelana

ceritakan tuan,
pada kelanamu yang mengabut gelap pada pandangku,
ceritakan aku tanah berwarna apa yang kau pijak,
langit seperti apa yang memayungi jalanmu,
segala kerikil dan bebatu yang kau lompati,
hewan hewan kecil,
rerumput dan jembatan,
angin yang membawamu pada keterdamparan jauh,
yang tak dapat ku rasa jejak remahnya saat kau tiba,
sebab kehilangan terisap begitu tajam pada kepulanganmu,
dan sajak sajak menua dan mati di beranda,
layu menyambutmu.

ceritakan tuan,
karena tak ada cerita yang bisa ku bagi pada tungguku,
hanya kertas kertas penuh dengan asa merenggang peluh,
jejak jejak dingin berdebu pada geming hening,
dan rongga dada penuh yang terasa semakin menenggelamkan aku pada entah yang dalam.

karena pada padu yang dulu,
dan temu yang kini semakin mengabu,
genggam mengerat entah terasa seperti jatuh pasir menderas debu,
lalu genggam ini kosong,
menggema mencari lalu,
yang terlalu jauh terbang pada pacu lari kelanamu.




Minggu, 30 November 2014

kisah

Pada 21 terang purnama yang menaungi kita,
dan hangat malam dengan segala silau redup binar lampu taman,
simpul simpul senyum dengan mekar layu garis bibir kita beriringan,
obrolan panjang hingga tertidur salah satu kita di pundak malam bergantian.

Dan betapa kita mencintai gelap sementara semesta mendamba cahaya,
betapa kita sibuk mencumbu sepi sementara semesta selalu mencari bingar,
betapa kita,
jatuh,
jauh,
mengubur diri dalam kubur kita bersama pada genggam dan peluk dalam,
tanpa matahari,
dan segala hiruk pikuk semesta,
yang sibuk mengacak debar kita,
pada gunduk tanah persembunyian damai ini.

Betapa,
aku tergila pada tokoh kita berdua,
dalam lembar kisah panjang ini,
menghabiskan purnama purnama kita,
tanpa terjebak tamat suatu saat nanti.




Sabtu, 01 November 2014

Mendung yang Gugup



Pada langit november yang urung merintik hujan
Setia pada selimut mendung tak kunjung deras
Pada sebuah sudut ruangan
Yang bersarang segunug remasan kertas
Menjadi bait bait rasa mengendap beban
Tak selaras
Saat dinding enggan menangkap bayangan
Dan aksara terbang mengepak lepas
Meninggalkan sebongkah pikir tak bertuan
Menunggui kebahagian berjalan berbalut cemas
Ada tawa yang khawatir kapan diberhentikan tuhan
Menjadi ketakutan untuk segera berkemas
Entah pada suatu kapan
Berpayung november, dengan damai yang kian meranggas